News

BPIP: Panutan Penerapan Pancasila Itu Ada di Elite Politik

Anggota BPIP Romo Beny Soesatyo mengatakan, salah satu kritik tajam Reformasi adalah minusnya kehadiran ajaran Pancasila sejak dini pada anak-anak muda.


BPIP: Panutan Penerapan Pancasila Itu Ada di Elite Politik
Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud MD dan Romo Benny Susetyo saat memberikan keterangan mengenai klarifikasi soal polemik gaji pimpinan BPIP di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/5). Mahfud MD mengatakan bahwa gaji pimpinan BPIP hanya Rp5 juta. Mengenai besaran gaji yang tertera dalam Perpres Nomor 42 Tahun 2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas bagi Pimpinan, Pejabat dan Pegawai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang besarnya menyentuh (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Anggota BPIP Romo Beny Soesatyo mengatakan, salah satu kritik tajam Reformasi adalah minusnya kehadiran ajaran Pancasila sejak dini pada anak-anak muda bangsa Indonesia. Ada ruang kosong pada usia dini anak-anak Indonesia yang menyebabkan nilai-nilai Pancasila semakin jauh dari perwujudannya. 

"Setelah Reformasi, kita juga dikritik. Kita ini tidak pernah mendapatkan pendidikan Pancasila itu sejak dari dini," ungkapnya dalam diskusi empat pilar MPR yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, Senin (20/9/2021). 

Dalam situasi kekosongan pengajaran Pancasila sejak usia dini, narasi politik di ruang publik justru selalu mendengungkan Pancasila sudah bersifat final. Akibatnya, Pancasila hanya menjadi retorika politik tanpa bisa memengaruhi cara berpikir dan bersikap masyarakat Indonesia. 

"Selalu (narasi) politik kita adalah Pancasila itu sudah final. Tapi problem-nya adalah bagaimana aplikasi Pancasila itu menjadi yang memengaruhi cara berpikir, bertindak terhadap generasi. Untuk apa? Bagaimana terjadi keseimbangan antara pemerintah, pasar dan Rakyat. Maka di situ lah nilai-nilai Pancasila itu ada," katanya. 

Perwujudan sikap pikir dan perbuatan Pancasila juga membutuhkan panutan atau role model. Nah, panutan Pancasila harusnya ditunjukkan oleh elite politik. Bila elite politik telah menunjukkan sikap dan cara berpikir Pancasila, maka masyarakat juga akan mengikutinya. 

"Role model Pancasila itu di elite politiknya. Kalau role model-nya tidak ada, ya masyarakat enggak ada keteladanan," katanya.

Sebelumnya, pada acara yang sama, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, teks Pancasila sudah tak bisa lagi diubah-ubah.Tetapi, kata dia, tafsir atas teks Pancasila bisa ditafsir ulang sesuai perkembangan zaman. Dia mengatakan, Pancasila merupakan produk politik yang disusun para negarawan. 

"Teks dalam Pancasila itu nggak akan pernah berubah. Tapi tafsirnya bisa berubah sesuai kondisi dan situasi. Pancasila itu azimat karena memang disusun oleh para negarawan," katanya dalam diskusi empat pilar MPR yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen, Senin (20/9/2021). 

Dia mengatakan, saat ini, di tengah perubahan keadaan yang semakin cepat, menghadirkan sosok negarawan seperti era awal pembentukan Pancasila semakin sulit. "Masalahnya, apakah masih ada negarawan. Itu soalnya," kata dia. []