Ekonomi

Bos Pajak Sebut Kenaikan Bea Materai Rp10 Ribu Masih Murah

Dirjen Pajak mengatakan, tarif baru bea meterai tersebut sebenarnya terbilang murah. Hal ini karena sudah 20 tahun tarif bea meterai tidak ada kenaikan.


Bos Pajak Sebut Kenaikan Bea Materai Rp10 Ribu Masih Murah
Staf Ahli Kementerian Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Suryo Utomo dalam acara Tax Gathering yang diselenggarakan oleh KPP Pratama Jakarta Senen di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019). (AKURAT.CO/ Siti Nurfaizah)

AKURAT.CO Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa lalu (29/9/2020) akhirnya mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang bea meterai sebagai Undang-undang (UU).

Dengan demikian, tarif baru meterai Rp10 ribu bakal mulai berlaku pada 1 Januari 2021 mendatang. Adapun saat ini, ada dua jenis tarif meterai, yakni Rp3.000 dan Rp6.000.

Menurut Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo, tarif baru bea meterai tersebut sebenarnya terbilang murah. Hal ini karena sudah 20 tahun tarif bea meterai tidak ada kenaikan.

Apalagi, yang dikenakan bea meterai di tahun depan hanya dokumen yang bernilai di atas Rp5 juta. Sedangkan dokumen untuk kegiatan yang bersifat non komersil juga tidak diwajibkan untuk dikenai bea meterai.

"Lalu apakah Rp10 ribu mahal? Kalau 20 tahun enggak naik terus mempertimbangkan inflasi, sesungguhnya ini masih murah," katanya melalui sebuah diskusi daring, Jakarta, Rabu (30/9/2020).

Suryo menjelaskan, alasan mendasar yang menyebabkan tarif bea meterai selama 20 tahun tidak naik karena undang-undangnya mengatur batasan kenaikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai, dikatakannya maksimum bea meterai maksimum naik sebanyak enam kali dari tarif awal.

Lebih lanjut, ketika UU Bea Meterai pertama disahkan pada 1985, tarif yang berlaku ialah Rp500 dan Rp1.000. Lalu, pada 2000 atau 15 tahun setelahnya baru tarif dinaikkan menjadi Rp3.000 dan Rp6.000.

Selain itu, UU Bea Meterai yang baru juga memperluas objek yang sebelumnya hanya dokumen fisik. Dengan adanya perubahan ini, objek bea materai terdiri dari dokumen fisik maupun dokumen elektronik, yang mulai banyak digunakan seiring perkembangan zaman.

"Kalau dulu dokumen hanya kertas, dari tahun 1985 ini. Tapi melihat dinamika perubahan zaman yang sedemikian rupa, bahasa bea meterai diperluas, tetap atas dokumen tapi tidak hanya kertas tapi juga yang bersifat elektronik," ungkapnya. []