Ekonomi

Bos Kadin Optimis Indonesia Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar

Kadin optimis Indonesia akan menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia.


Bos Kadin Optimis Indonesia Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar
Pengemudi Taksi Grab melakukan pengisian bahan bakar listrik di SPKLU PNN, Gambir, Jakarta, Minggu (27/12/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, optimis Indonesia akan menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Optimisme tersebut seiring dengan resminya Indonesia membangun pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara. 

Hari ini, Presiden Joko Widodo telah melakukan ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut, di Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021). Nilai investasi pembangunan pabrik ini mencapai US$1,1 miliar atau sekitar Rp15,95 triliun. 

Selaras dengan hal tersebut, keoptimisan Arsjad berangkat dari besarnya pasokan nikel di Indonesia untuk pembuatan baterai lithium, yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik. Indonesia sendiri memiliki kandungan nikel yang melimpah. 

"Nikel adalah bahan utama pembuatan baterai lithium yang digunakan untuk mobil listrik. Kita bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia," ujar Arsjad, dalam keterangan resminya, Rabu (15/9/2021).

Lebih lanjut, Arsjad memaparkan, selain memiliki sumber daya alam yang melimpah berupa nikel, untuk mencapai cita-cita tersebut Indonesia juga harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi, bisa memanfaatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta memanfaatkan teknologi yang bisa dikembangkan di dalam negeri. 

“Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. TKDN komponennya banyak di Indonesia, sehingga biaya pembuatan baterai dari Indonesia akan lebih kompetitif,” tambah Arsjad. 

Hal tersebut juga diamini oleh Jokowi. Presiden turut melihat Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel seperti baterai lithium, baterai listrik, baterai kendaraan listrik. Jokowi bahkan menargetkan realisasinya bisa terwujud dalam 3–4 tahun ke depan. 

"Saya yakin 3–4 tahun ke depan, melalui manajemen yang baik, manajemen pengelolaan yang baik," tutur Jokowi. 

Hilirisasi industri nikel, kata Jokowi, juga bisa meningkatkan nilai tambah bijih nikel secara signifikan. Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat 6-7 kali lipat. Dan jika dijadikan mobil listrik akan meningkat lagi nilai tambahnya, yaitu 11 kali lipat.