Ekonomi

Bos Evergrande Hui Ka Yan Dulu Hidup Sengsara, Kini Dikejar Utang Hingga Nyaris Bangkrut!

Krisis dialami oleh pengembang real estat terbesar di China, Evergrande menyebabkan permasalahan likuiditas dinilai bakal mempengaruhi perekonomian dunia


Bos Evergrande Hui Ka Yan Dulu Hidup Sengsara, Kini Dikejar Utang Hingga Nyaris Bangkrut!
Evergrande Hui Ka Yan (Forbes.com)

AKURAT.CO Krisis yang tengah dialami oleh pengembang real estat terbesar di China, Evergrande menyebabkan permasalahan likuiditas dinilai bakal mempengaruhi perekonomian dunia. Keterpurukan yang dihadapi oleh Evergrande turut membuat saham perusahaan jatuh ke level terendah dalam lebih dari 11 tahun.

Saham Evergrande Group telah anjlok 80% sepanjang tahun hingga membuat kekayaan pendiri dan ketua miliardernya, Hui Ka Yan berkurang. Namun, Hui Ka Yan tetap sangat kaya bahkan jika perusahaan itu ambruk di bawah beban utang lebih dari US$300 miliar (Rp4.275 triliun) dan serangkaian utang yang menjulang, pembayaran obligasi yang telah mengguncang ekonomi global minggu ini.

Perusahaan raksasa properti yang ia dirikan pernah membuatnya menjadi orang terkaya di China pada tahun 2017. Bahkan saat itu, Hui berhasil mendepak pendiri Alibaba, Jack Ma.

Sayangnya saat ini Hui Ka Yan berada di ambang kebangkrutan. Evergrande berutang pada 128 bank dengan total utang lebih dari US$300 miliar (R4.275 triliun). Total utang itu pun terbesar dalam sejarah.

Ditambah lagi, Evergrande mengalami krisis likuiditas dan utang kepada karyawan, serta pembeli rumah yang sudah melakukan uang muka. Kekhawatiran kebangkrutan Evergrande ini pun membuat investor seluruh dunia gelisah.

Lantas, bagaimana perjalanan hidup Hui Ka Yan selaku pendiri perusahaan?

Ternyata, Hui Ka Yan lahir di tengah kemiskinan. Ia lahir di desa kecil daerah Henan pada tahun 1958. Setelah beberapa bulan dilahirkan, Hui Ka Yan kehilangan ibunya.

Kemudian, ia diasuh oleh nenek dari pihak ayahnya yang merupakan veteran perang dan harus bekerja di sebuah gudang.

Kehidupan masa kecilnya sangat memprihatikan. Saat itu China mengalami bencana ekonomi dan kelaparan. Hui Ka Yan sendiri sering kelaparan sejak kecil. Ia hanya makan ubi jalar dan roti kukus. Hidupnya pun serba kekurangan sehingga ia tak pernah membeli pakaian baru. Pakaiannya pun penuh dengan tambalan.

"Benar-benar ditambal di semua tempat dan yang saya makan hanya ubi jalar dan roti kukus. Saya ingin meninggalkan desa secepatnya, mencari pekerjaan di kota dan bisa makan lebih baik," kenang Hui sebagaimana dikutip dari Morning Express di Jakarta, Senin (27/9/21). 

Setelah revolusi budaya berakhir pada tahun 1977, Hui pun mencoba mendaftar di universitas tetapi gagal. Tahun berikutnya, ia kembali mendaftar dan berhasil diterima di Wuhan Institute of Iron and Steel. 

Dosennya, Meng Xiankun mengingat Hui Ka Yan sebagai mahasiswa yang banyak bicara dan mudah bergaul. Ia juga sempat ditunjuk sebagai komisioner kesehatan kelas.

Setelah lulus kuliah, saat itu China masih dalam bayang-bayang ekonomi komando, Hui Ka Yan pun mendapat kesempatan bekerja di sebuah pabrik baja di kota kelahirannya. Dengan cepat ia menjadi sosok yang menonjol. 

"Dia pandai dalam pekerjaannya, rendah hati, pekerja keras, sangat pintar, pandai berurusan dengan orang," puji atasannya.

Saat masih muda, Hui Ka Yan sangat ambisius. Ia pun tak puas dengan pekerjaannya. Hingga akhirnya pada tahun 1992, Hui mencari pekerjaan ke Shenzhen, sebuah kota kecil di perbatasan dengan Hong Kong. Di sinilah, banyak miliarder sukses lahir mengembangkan bisnis mereka dan mencapai kesuksesan.

Pada tahun 1996, Hui Ka Yan akhirnya mendirikan Evergrande di Guangzhou. Selama 25 tahun berdiri, perusahaan sukses besar. Bahkan, ketika grup tersebut IPO di Hong Kong pada 2009, Evergrande berhasil mengumpulkan dana US$9 miliar.

Sayangnya, Evergrande mengutang dalam jangka waktu yang lama dan jumlah yang besar pula. Mereka secara agresif menjual apartemen yang bahkan belum dibangun.

Bahkan, mereka juga mengakuisisi klub sepak bola terbesar di China, Guangzhou FC, dan menandatangani kontrak dengan mantan pelatih kepala Italia Marcello Lippi dalam kesepakatan senilai sekitar 30 juta euro pada 2012. 

Selera Hui Ka Yan akan kemewahan membuatnya mendapatkan julukan 'belt brother', ini karena ia memasuki konferensi legislatif tahunan China dengan ikat pinggang emas dengan logo H atau Hermes.

Alhasil, dalam beberapa tahun terakhir, Beijing mulai memberikan serangkaian peraturan untuk menahan pinjaman perusahaan properti. Tetapi, itu sudah terlambat bagi Evergrande dan Hui Ka Yan yang hari ini memiliki utang bergunung-gunung.[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.