Rahmah

Bolehkan Memberi Mahar dengan Mengajarkan Al-Qur'an?

Mahar tidak selalu berbentuk uang atau perhiasan.


Bolehkan Memberi Mahar dengan Mengajarkan Al-Qur'an?
Al-quran (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Mahar atau maskawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat pernikahan. Mahar tidak sama dengan harta sesan, yaitu istilah yang digunakan apabila pemberi mahar adalah pihak keluarga atau mempelai perempuan.

Dalam pandangan Mazhab Syafi’i, tidak ada batasan jumlah mahar yang diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan. Bahkan, bolah saja andaikata seorang laki-laki memberi mahar selain emas atau uang, selagi mengandung unsur kemanfaatan.

Taqiyydin Abu Bakar Al-Hishni, dalam kitab Kifayatul Akhyar, juz II, halaman 64, berkata seperti di bawah ini:

baca juga:

قوله (وليس لأقل الصداق وأكثره حد ويجوز أنه يتزوجها على منفعة معلومة) ليس للصداق حد في القلة ولا في الكثرة بل كل ما جاز أن يكون ثمنا من عين أو منفعة جاز جعله صداقا

Artinya: “(Tidak ada batas minimal dan batas maksimal mahar. Seseorang boleh mengawini seorang perempuan dengan mahar berupa jasa bermanfaat tertentu). Tidak ada batas minimal dan maksimal mahar. Semua yang mungkin mengandung nilai baik berupa barang maupun jasa, boleh dijadikan mahar.”

Meskipun dalam pandangan Imam Syafi’i tidak ditentukan berapa besarnya mahar, dalam kesempatan yang lain ia mengatakan bahwa hendaknya mahar tidak kurang dari 10 dirham untuk keluar dari khilaf Imam Abu Hanifah, dan tidak lebih dari mahar istri Rasulullah, yaitu sebesar 500 dirham.

Dalam kitab yang samna, Al-Hisni berkata:

نعم يستحب أن لا ينقص عن عشرة دراهم للخروج من خلاف أبي حنيفة ويستحب أن لا يزاد على صداق أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو خمسمائة درهم

Artinya: “Tetapi besaran mahar dianjurkan tidak kurang dari 10 dirham untuk keluar dari khilaf Imam Abu Hanifah, dan tidak lebih dari mahar istri Rasulullah, yaitu sebesar 500 dirham.”

Lalu bagaimana dengan adanya mahar-mahar unik yang berlaku saat ini? Apakah dibolehkan dalam agama atau tidak diizinkan dalam pandangan syariat Islam?

Syekh Ibrahim Al-Baijuri, dalam Hasyiyatul Baijuri, juz II, halaman 126-127, mengatakan bahwa dalam mazhab syafi’i, selain tidak menentukan batasan berapa mahar perkawinan, juga tidak menentukan bentuk atau jenis dari mahar ini.

  قوله (ويجوز أن يتزوجها على منفعة معلومة) كتعليمها القرآن أي وكخياطة ثوب وكتابة نحو دلائل الخيرات ومثل لقرآن الفقه والحديث والشعر الجائز وغير ذلك مما ليس بمحرم ولا فرق في تعليم القرآن بين أن يكون لكله كما هو ظاهره أو لسورة معينة منه كالفاتحة وغيرها أو لقدر معين من سورة معينة من سورة يس إن كانت تعرفه

Artinya: “(Seseorang boleh mengawini seorang perempuan dengan mahar berupa jasa bermanfaat tertentu) seperti jasa mengajarkan Al-Qur’an, seperti juga menjahitkan pakaian, menuliskan misalnya kitab Dala’ilul Khairat. Seperti Al-Quran, jasa pengajaran fiqih, hadits, syair yang boleh, dan selain itu yang tidak diharamkan. Tidak ada perbedaan apakah pengajaran Al-Qur’an 30 juz sebagaimana zahirnya, atau surat tertentu semisal Al-Fatihah dan surat lainnya, atau kadar tertentu dari surat tertentu, Surat Yasin misalnya jika ia mengetahuinya.”

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa memberikan mahar kepada pengantin perempuan dengan bentuk mengajarkan Al-Qur'an adalah boleh atau sah. Sehingga pernikahan tetap dianggap sah dalam agama. Wallahu A'lam.[]