Rahmah

Bolehkan Berkurban Diniatkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?

Jangan sampai muslim salah paham soal ini


Bolehkan Berkurban Diniatkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?
Sapi kurban (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Tidak menutup kemungkinan dalam kehidupan kita ada orang tua yang selama hidupnya belum pernah berkurban. Entah karena urusan ekonomi, masalah kesehatan, atau alasan-alasan lainnya yang membuatnya belum berkurban.

Kurban sendiri adalah ibadah yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah sejak tanggal 10-13 Dzulhijjah. Hukum kurban sendiri adalah sunah mu'akkadah.

Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, dalam al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi asy-Syuja’, halaman 588 mengatakan demikian;

baca juga:

وَالْاُضْحِيَة- ....(سُنَّةٌ) مُؤَكَّدَةٌ فِيحَقِّنَاعَلَى الْكِفَايَةِ إِنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنِ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ وَالْمُخَاطَبُ بِهَا الْمُسْلِمُ اَلْحُرُّ اَلْبَالِغُ اَلْعَاقِلُ اَلْمُسْتَطِيعُ 

Artinya: “Hukum berkurban adalah sunnah muakkad yang bersifat kifayah apabila jumlahnya dalam satu keluarga banyak, maka jika salah satu dari mereka sudah menjalankannya maka sudah mencukupi untuk semuanya jika tidak maka menjadi sunnah ain. Sedangkan mukhatab (orang yang terkena khitab) adalah orang islam yang merdeka, sudah baligh, berakal dan mampu."

Pertanyaannya adalah bagaimana jika kurban diniatkan untuk orang yang sudah wafat? Muhyiddin Syarf an-Nawawi, dalam Minhaj ath-Thalibin, halaman 321 mengatakan demikian:

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا   

Artinya: “Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani."

Dari paparan di atas jelas bahwa berkurban bagi orang wafat tidak dibolehkan apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani semasa hidupnya. Hewan kurban hanya diperuntukkan untuk diri seseorang.

Namun pandangan lain mengatakan boleh dengan mengkategorikan sebagai sedekah. Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, halaman 406 mengatakan.

لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ 

Artinya: “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama."

Wallahu A'lam.[]