Rahmah

Bolehkah Meroasting dalam Pandangan Agama Islam?

Bolehkah Meroasting dalam Pandangan Agama Islam?
Ilustrasi Meroasting (pinterest.com)

AKURAT.CO Roasting adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk memaparkan pribadi orang lain di muka umum. Kadang, saat meroasting, ada sebagian orang yang merendahkan diri orang lain dengan menyebut aib-aibnya.

Dalam Islam, manusia adalah makhluk yang sempurna. Allah pun memuliakan kedudukan manusia dan menjadikannya sebagai makhluk terbaik di muka bumi.

Sebagaimana firman Allah Swt  dalam surat Al-Isra’ ayat 70 ;

baca juga:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا.

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”. (QS.Al-Isra’;70).

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Allah Swt sangat memuliakan manusia dengan menjaga kehormatannya dan menjadikan manusia sebagai makhluk istimewa diantara banyaknya makhluk Allah Swt.

Hal senada juga diajarkan oleh Rasulullah Saw melalui hadistnya;

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “‌مَنْ ‌نَفَّسَ ‌عَنْ ‌مُؤْمِنٍ ‌كُرْبَةً ‌مِنْ ‌كُرَبِ ‌الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَة. وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيه.”

“Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seseorang, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. 

Barangsiapa memudahkan orang susah, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Allah Swt senantiasa akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR.Muslim)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa prilaku roasting bisa menjadi dilarang apabila terkesan membuka aib tanpa seizin orang yang menjadi objek roasting, karena hal itu bisa membuat malu dan jengkel orang yang di roasting.

Wallahu alam.[]

Sumber: Bincangsyariah.com