Rahmah

Bolehkah Menikahi Wanita yang Pernah Berzina?

Tidak semua perempuan boleh dinikahi oleh laki-laki.


Bolehkah Menikahi Wanita yang Pernah Berzina?
Ilustrasi cincin kawin (pixabay.com)

AKURAT.CO Zina adalah suatu perbuatan yang amat sangat dilaknat Allah SWT dan dosanya begitu besar. Akan berdosa lagi jika seseorang melakukan zina muhsan. Zina muhsan adalah zina yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang sudah menikah, dengan pernikahan sesuai syariat yang ditentukan dan dia sudah baligh atau berakal.

Adanya perbuatan zina ini bisa berpengaruh pada ketentuan menikah yang akan dilakukan oleh seseorang. Seseorang yang menikah dengan wanita yang telah melakukan zina tentu tidak sama dengan mereka yang tidak melakukan perbuatan dosa besar tersebut.

Dalam Islam, ditentukan bahwa tidak semua jenis perempuan boleh dinikahi oleh laki-laki. Ada banyak kriteria wanita yang tidak boleh dinikahi oleh seseorang. Hal ini disinggung oleh Imam Al-Ghazali, dalam Al-Wajiz fi Fiqhil Imamis Syafi‘i, juz 2, halaman 10, sebagaimana dikutip dari NU Online, sebagai berikut.

baca juga:

 الركن الثاني المحل وهي المرأة الخلية من الموانع مثل أن تكون منكوحة الغير أو مرتدة أو معتدة أو مجوسية أو زنديقة أو كتابية بعد المبعث أو رقيقة والناكح قادر على حرة أو مملوكة الناكح بعضها أو كلها أو من المحارم أو بعد الأربعة أو تحته من لا يجمع بينهما أو مطلقة ثلاثا ولم يطأها زوج آخر أو ملاعنة أو محرمة بحج أو عمرة أو ثيبا صغيرة أو يتيمة أو زوجة رسول الله صلى الله عليه وسلم 

Artinya: “Rukun kedua nikah adalah calon istri. Ia adalah perempuan yang terlepas dari larangan-larangan (untuk dinikahi) seperti (ia bukan) (1) istri orang lain (2) murtad (3) dalam masa iddah (4) penganut Majusi (5) zindiq (6) ahli kitab setelah Nabi Muhammad SAW diutus (7) budak milik orang lain di mana calon suami mampu mengawini perempuan merdeka (8) budak milik calon suami itu sendiri baik separuh atau sepenuhnya dalam kepemilikan (9) salah satu dari mahram (10) calon istri kelima darinya (11) perempuan yang tak lain saudara (kandung, susu, atau bibi) dari istri calon suami (yang ingin poligami) di mana dilarang menghimpun dua perempuan bersaudara dalam satu perkawinan (12) istri talak tiga yang belum dinikahi (harus dijimak) laki-laki lain (13) istri yang dili’an (14) perempuan yang sedang ihram haji atau umrah (15) janda di bawah umur (16) bocah perempuan status yatim (17) salah satu istri Rasulullah SAW."

Lalu bagaimana jika seseorang menikahi perempuan yang sudah hamil di luar nikah atau pernah melakukan zina? Apakah dibolehkan dalam agama Islam, atau justru dilarang?

Syekh M Nawawi Al-Bantani sebagai berikut dalam karyanya Qutul Habibil Gharib, Tausyih ala Fathil Qaribil Mujib.

 ولو نكح حاملا من زنا، صح نكاحه قطعا، وجاز له وطؤها قبل وضعه على الأصح  

Artinya: “Kalau seorang pria menikahi perempuan yang tengah hamil karena zina, maka akad nikahnya secara qath’i sah. Menurut pendapat yang lebih shahih, ia juga tetap boleh menyetubuhi istrinya selama masa kehamilan."

Dari keterangan pendek di atas dapat disimpulkan bahwa hukum menikahi seorang perempuan yang sudah hamil atau pernah melakukan zina adalah sah. Hal itu terlepas dari adanya aib yang akan ditimbulkan di tengah masyarakat. Oleh sebab itu Islam melarang keras umatnya melakukan perbuatan keji tersebut. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online