Rahmah

Bolehkah Memberi Upah Kepala atau Kulit Hewan pada Pemotong Kurban?

Memberikan upah kepada penjagal berupa bagian dari anggota tubuh hewan (termasuk kepala dan kulit) adalah haram


Bolehkah Memberi Upah Kepala atau Kulit Hewan pada Pemotong Kurban?
Kambing kurban (pixabay.com)

AKURAT.CO Tidak sedikit masyarakat yang berkurban saat Idul Adha dengan mewakilkannya orang lain untuk menyembelih hewan. Biasanya karena pihak yang berkurban tidak bisa melakukannya sendiri.

Sebagai rasa terimakasih pihak yang berkurban kepada pemotong hewan biasanya ia memberikan kepala atau kulit hewan sebagai upah. Lalu bagaimanakah hukumnya dalam Islam?

Dilansir NU Online, dalam pembahasan fikih sebagaimana dijelaskan oleh ulama dalam kitab-kitab mereka, memberikan upah kepada penjagal berupa bagian dari anggota tubuh hewan (termasuk kepala dan kulit) adalah haram. Syekh Zakaria al-Anshari dalam Asnal Mathalib (1/545) menjelaskan,

baca juga:

وَيَحْرُمُ الْإِتْلَافُ وَالْبَيْعُ لِشَيْءٍ من أَجْزَاءِ أُضْحِيَّةِ التَّطَوُّعِ وَهَدْيِهِ وَإِعْطَاءُ الْجَزَّارِ أُجْرَةً مِنْهُ بَلْ هُوَ عَلَى الْمُضَحِّي وَالْمُهْدِي كَمُؤْنَةِ الْحَصَادِ

Artinya, “Haram menghilangkan atau menjual sesuatu yang termasuk bagian dari hewan kurban sunah dan hadyu, dan haram pula memberi upah tukang jagalnya dengan sesuatu yang menjadi bagian hewan kurban tersebut. Tetapi biaya tukang jagal menjadi beban pihak yang berkurban dan yang ber-hadyu sebagaimana biaya memanen.”

Dasar hukum ini berdasarkan hadis Nabi yang menjelaskan Rasulullah pernah memerintahkan Ali bin Abi Thalib. Lalu beliau memerintahkan Ali agar tidak memberi bagian dari kurban itu kepada penjagalnya.

عن عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ على بُدْنِهِ فَأُقَسِّمَ جِلَالَهَا وَجُلُودَهَا وَأَمَرَنِي أَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ من عِنْدِنَا

Artinya, “Dari sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, ia berkata: ‘Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya kemudian aku membagikan jilal-nya (pakaian hewan yang terbuat dari kulit untuk menahan dingin) dan kulitnya, dan beliau memerintahkan kepadaku untuk tidak memberikan sedikitpun bagian tubuh dari hewan kurban tersebut (sebagai upah) kepada tukang jagal’. Dan beliau bersabda: ‘Kami akan memberikan upah tukang jagalnya dari harta yang ada pada kami.’”

Sehingga, selama pemberian kepada penjagal berstatus sebagai upah, maka tidak boleh. Akan tetapi jika pemberiannya itu berstatus dia sebagai penerima kurban karena termasuk orang miskin misalnya, maka boleh. Syekh Zakaria al-Anshari melanjutkan,

وَخَرَجَ بِأَجْرِهِ إعْطَاؤُهُ مِنْهُ لِفَقْرِهِ وَإِطْعَامُهُ مِنْهُ إنْ كَانَ غَنِيًّا فَجَائِزَانِ

Artinya, “Dan dikecualikan dengan upah jagal adalah memberi suatu bagian dari hewan kurban kepada si jagal karena kefakirannya atau memberinya makan dari hewan kurban tersebut jika ia orang yang mampu, maka kedua hal ini boleh.” Wallahu a'lam bishawab.[]

Sumber: NU Online