Lifestyle

Bolehkah Makan Mi Instan Setiap Hari? Berikut Dampaknya Bagi Kesehatan

Bolehkah Makan Mi Instan Setiap Hari? Berikut Dampaknya Bagi Kesehatan
Ilustrasi mi instan. (Repro)

AKURAT.CO Mi instan menjadi kudapan yang banyak disukai orang. Selain rasanya enak, proses pembuatannya yang mudah pun menjadi alasan.

Untuk diketahui, pembuatan mi tertua dan pertama kali ada di China. Sekitar abad kedua, makanan dalam bentuk mi muncul pada zaman kekaisaran Tiongkok kedua yakni Dinasti Han. Kala itu mi berkembang dalam bentuk masakan, dipotong tipis atau dimakan dingin dan tersebar luas di China.

Mulai masuk abad ke-20, ramen ayam ditemukan. Ini adalah kelahiran mi instan pertama di dunia tepatnya pada tahun 1958 di Jepang. Ramen menjadi cikal bakal pembuatan mi instan yang mudah diolah dan bisa dimakan di mana saja.

baca juga:

Bolehkah Mi Instan Dikonsumsi Setiap Hari?

Mi instan seringkali menjadi pilihan ketika perut sedang lapar. Ditambah tanggal tua yang membuat orang tidak memiliki banyak opsi makanan, sehingga memilih makanan affordable.

Sayangnya, di balik segala macam sisi baiknya, mi instan disarankan untuk tidak dikonsumsi setiap hari. Ini dikarenakan tingginya kandungan lemak jenuh, pengawet dan natrium yang biasa disebut dengan jenis makanan ultra proses.

Jumlah gizi sehat yang terkandung pada makanan tersebut juga terbilang minim, bahkan dapat meningkatkan risiko dari beberapa penyakit. Ditambah penggunaan zat pengawet yang tidak baik bagi tubuh jika sering dikonsumsi.

Dampak Mengonsumsi Mi Instan Setiap Hari

Menurut situs Laborers' Health and Safety Fund of North America, konsumsi makanan ultra proses dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas hingga kanker.

Berikut Dampak Mengonsumsi Mi Instan Setiap Hari.
1. Kekurangan nutrisi

Makanan ini mengandung karbohidrat yang tinggi, tetapi minimnya kandungan serat, protein, vitamin dan mineral. Dengan memakan mi mungkin kalian akan merasa kenyang karena tingginya karbon tetapi nutrisi lain tidak terpenuhi.

Padahal tubuh membutuhkan zat gizi mikro dan makro. Zat gizi makro seperti protein dan lemak sehat sebagai sumber energi dan pembentukan massa otot. Sementara itu, zat gizi mikro diperlukan dalam jumlah sedikit untuk menjaga sistem kekebalan tubuh, perkembangan otak dan memastikan fungsi organ bekerja dengan baik.

2. Penambahan berat badan yang tidak sehat

Mi instan termasuk ke dalam makanan yang tidak sehat karena jumlah kalori yang cukup tinggi dengan didominasi karbohidrat dan natrium. Selain itu, makanan ini juga tinggi akan kandungan lemak jenuh yang memberikan rasa enak dan bikin ketagihan.

Menurut riset dalam American Journal Of Lifestyle Medicine (2018) sebanyak 71 persen masyarakat Amerika mengalami obesitas yang diakibatkan oleh konsumsi makanan olahan dan ultra proses. Bahkan, riset tersebut juga menjelaskan bahwa konsmsi makanan olahan dan cepat saji lebih berisiko menyebabkan kematian daripada merokok.

3. Naiknya tekanan darah

Kadar natrium yang tinggi berdampak pada tekanan darah. Menurut jurnal Nutrients (2017), makanan ultra proses ini menyumbang sekitar 80 persen asupan garam harian.

Ini belum termasuk asupan garam dari makanan lain, sehingga dapat membuat anda berisiko mengonsumsi garam melebihi batas yang dianjurkan yaitu sekitar satu sendok teh per hari.

4. Timbulnya masalah pencernaan

Mi instan diketahui membutuhkan waktu 1-2 hari agar bisa tercerna dengan sempurna. Jika dimakan setiap hari bisa menyebabkan penumpukan di dalam perut, sehingga pencernaan akan terganggu.

Ini sama saja dengan memperberat kerja sistem pencernaan dan lebih berisiko menimbulkan penyakit yang lebih serius seperti sembelit hingga usus bocor. Selain itu, proses mencerna mi instan yang cukup lama ini juga dapat mengganggu penyerapan zat gizi lainnya pada tubuh.

5. Memicu sindrom metabolik

Sindrom metabolik adalah beberapa kondisi gangguan kesehatan yang terjadi bersamaan dan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes hingga stroke.

Ada penelitian yang menyebutkan konsumsi mi instan setidaknya dua kali seminggu dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik sebesar 68 persen. Ini artinya anda akan jauh lebih berisiko mengalami gangguan metabolisme lebih besar bila mengonsumsi mi setiap hari.

6. Risiko terkena kanker dan penyakit jantung

Makanan olahan cepat saji ini ternyata dapat menimbulkan dampak buruk bagi sistem pencernaan yang memaksanya untuk mengolah mi dalam waktu berjam-jam. Jika dipaksa untuk mencerna terlalu cepat akan mengganggu kadar gula darah dan pelepasan insulin. Pencernaan yang lambat membuat bahan kimia beracun dan pengawet tetap berada di dalam tubuh.

Fakta lainnya, bahan kimia ini bersifat karsinogenik yaitu dapat menyebabkan kanker pada seseorang dan beberapa gangguan lainnya seperti asma, diare bahkan perasaan cemas. Jika sering dikonsumsi maka akan memperbesar resiko.

7. Liver menjadi kerja keras

Sulitnya pencernaan mi instan memaksa liver untuk bekerja keras dalam mencerna. Jika dipaksa bekerja keras mencerna mi instan liver bakal menyimpan lemak di selnya sendiri dan penumpukan lemak ini bakal merusak liver jika tidak dikontrol.

Adanya bahan pengawet, perasa buatan, pemanis buatan dan bahan aditif lainnya menciptakan tekstur, stabilitas dan rasa mi instan yang kita konsumsi sekarang.

Batas Ideal Mengonsumsi Mi Instan

Banyak orang yang sudah terlanjur kecanduan akan mengonsumsi mi instan. Dengan segala macam bahan yang bisa merugikan tubuh ditambah dengan rasanya yang enak. Inilah mengapa masih banyak orang yang susah melepaskan diri dari kecanduan mi instan.

Beragam pendapat terkait batas ideal mengonsumsi makanan ultra proses ini. Ada yang berpendapat disarankan untuk mengonsumsi mi instan hanya satu-dua porsi dalam satu minggu dan tidak boleh lebih dari itu. Namun, ada juga yang berpendapat lebih ekstrim dengan hanya memperbolehkan konsumsi makanan yang mudah disajikan ini hanya 1-2 kali dalam sebulan.

Meski begitu ada juga mitos yang menyatakan jika menambahkan sayuran ke mi instan yang disajikan dapat meningkatkan nilai gizinya. Namun faktanya, makanan-makanan yang menyehatkan layaknya sayur dan buah tidak dapat melawan efek negatif yang dihasilkan oleh makanan tidak sehat ini.