Rahmah

Bolehkah Jamak Salat bagi Pengantin Baru yang Sedang Menerima Banyak Tamu?

Banyak calon pengantin kebingungan soal salat saat menerima tamu.

Bolehkah Jamak Salat bagi Pengantin Baru yang Sedang Menerima Banyak Tamu?
Ilustrasi Nikah (Pinterest)

AKURAT.CO  Salat merupakan kewajiban bagi siapapun yang telah memilih memeluk agama Islam. Sengaja meninggalkannya akan berdampak pada mendapatkan dosa dan siksaan kelak di akhirat.

Pada dasarnya ada banyak hal yang bisa menjadikan seseorang mendapatkan keringanan dalam ibadah salat, seperti seorang musafir atau seseorang yang berpergian dengan tidak mempunyai tujuan maksiat. Atas dasar itulah dalam fikih mengajarkan salat jamak dan qashar.

Salat ini adalah melaksanakan dua macam salat yang berbeda dalam satu waktu, karena adanya satu alasan tertentu. Meski demikian para ulama fiqih berbeda pendapat terkait alasan diperbolehkannya jamak salat.

baca juga:

Sebagian ulama fiqih hanya membolehkan jamak shalat ketika seseorang dalam keadaan bepergian jauh (musafir). Namun sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Sirrin, al-Qaffal dan Abu Ishaq al-Marwazy membolehkan menjamak salat walaupun ada di rumah dikarenakan keadaan yang amat sangat sibuknya dan jamak ini tidak menjadi kebiasaan.

Keadaan seperti di atas ini misalnya jamak shalat bagi pengantin baru yang sedang  menjalani walimatul arusy dan selalu menerima tamu. Begitu diterangkan dalam Syarah Muslim lin Nawawi:

وذهب جماعة من الأئمة الى جواز الجمع فى الحاضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشى الكبير من أصحاب الشافعى عن أبى إسحاق المروزى عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر

Artinya: "Sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan,". 

Pendapat Ibnu Sirrin, Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir. 

Memang sebaiknya, seseorang melaksanakan ibadah salat secara tepat waktu. Dalam konteks pengantin baru, bisa saja misalnya bergantian antara pengantin pria dengan wanita dalam melayani tamu.

Namun jika tidak memungkinkan lantaran resiko rusaknya make-up atau demi menghargai tamu yang datang dari jauh-jauh hari, maka dapat mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan jamak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan tidak menjadi sebuah kebiasaan yang sengaja dilakukan secara terus-menerus.

Wallahu A'lam.[]