News

Bolehkah Istinja dengan Tisu sebagai Pengganti Air? Begini Penjelasan Para Ulama


Bolehkah Istinja dengan Tisu sebagai Pengganti Air? Begini Penjelasan Para Ulama
Ilustrasi (pixabay.com/ Dizzy Roseblade)

AKURAT.CO, Istinja merupakan kegiatan membersihkan diri dari najis (kotoran) setelah buang air besar atau kecil, sehingga istinja ini wajib dilakukan oleh setiap muslim.

Sebab, syarat sahnya suatu ibadah seperti salat, tawaf, membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya adalah suci dari najis dan hadas, besar maupun hadas kecil.

Kata istinja berasal dari kata “najautus syai’a ai qhatha’tuhu” (aku memutus sesuatu) karena pada hakikatnya seseorang yang beristinja berarti dirinya tengah memutus kotoran dari tubuhnya. Dalam berbagai literatur fikih, istinja bisa menggunakan air, tetapi bisa juga menggunakan batu jika suatu ketika seseorang itu tidak menemukan air.

Sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik ra bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw hendak buang air, maka aku dan seorang anak kecil membawa sebuah wadah berisi air dan sebuah tongkat. Maka beliau Nabi saw beristinja menggunakan air." (HR Bukhari dan Muslim)

Sementara dalam riwayat lain dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Jika salah seorang dari kalian pergi untuk buang hajat, maka hendaknya ia menggunakan tiga buah batu. Karena hal itu cukup baginya.” (HR. Abu Dawud)

Hadis di atas memberikan tuntunan kepada kita agar bersuci menggunakan air atau batu. Tetapi, seiring dengan kemajuan zaman, manusia selalu berinovasi untuk menciptakan alat yang semakin praktis digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Salah satunya adalah tisu yang umum digunakan orang zaman sekarang seperti di hotel, pesawat, dan lain sebagainya. Lantas, bagaimana pandangan fikih dalam menanggapi tisu sebagai alat untuk istinja?

Persoalan itu sebenarnya sudah diterangkan dalam berbagai literatur fikih khususnya mazhab Syafi'i seperti yang ada dalam Al-Majmu’ Syarh l-Muhaddzab, Syarqawi Syarh Tuhfatut Thullab, Bujairami Syarh Iqna’ yang mengatakan bahwa tisu dapat digunakan untuk beristinja.

Hal itu didasarkan bahwa tisu merupakan benda yang tidak najis, berwujud padat sejenis batu, dan bukan termasuk benda muhtaram (dianggap mulia dan berharga) karena dalam tisu tersebut tidak terdapat tulisan di dalamnya. Adapun ketika ada tulisan di dalamnya maka tidak bisa digunakan untuk bersuci demi memuliakan tulisan tersebut terlebih lagi tulisan yang mengandung asma Allah.

Pendapat di atas sejalan dengan apa yang terdapat dalam kitab Fathul Qarib karangan Imam Al-Ghazi. Dalam kitab tersebut dijelaskan, "Wajib istinja karena keluarnya air seni (kencing) atau air besar. Istinja bisa dilakukan menggunakan air atau batu dan benda-benda yang semakna dengan batu, yaitu setiap benda yang padat, suci, bisa membersihkan kotoran dan tidak dimuliakan oleh syariat.”

Oleh sebab itu, bisa dikatakan tisu merupakan benda yang memenuhi kriteria di atas sehingga para ulama sepakat bahwa tisu bisa digunakan untuk bersuci. Begitu pula yang dijelaskan oleh Mushthafa Dib al-Bugha dalam At-Tahdzib Fi Adillati Matn Al-Ghayah Wa At-Taqrib bahwa setiap benda yang kering dan suci seperi lembaran daun boleh digunakan untuk beristinja’ begitu juga dengan tisu.

Dalam pemahaman fikih, tisu menurut para ulama tergolong hajar syar'i yang bisa digunakan untuk beristinja. Hajar syar'i adalah benda-benda padat yang suci, dapat membersihkan kotoran dan tidak termasuk kategori banda-benda yang dimuliakan atau berharga.

Contoh benda hajar syar'i ini seperti batu, kayu, tembok, keramik kasar, kulit hewan, juga tisu yang bisa digunakan untuk bersuci.

Dari uraian di atas, kita tidak perlu ragu ketika berada di suatu tempat yang hanya menyediakan tisu untuk beristinja.

Wallahu a'lam.