Lifestyle

Bolehkah Divaksin Covid-19 saat Sakit? Ini Syaratnya

Saat ini pemerintah tengah gencar melakukan vaksinasi untuk masyarakat Indonesia


Bolehkah Divaksin Covid-19 saat Sakit? Ini Syaratnya
Pekerja dan warga masyarakat saat mengikuti pelaksanaan vaksinasi massal COVID-19 di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Kamis (10/6/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Upaya vaksinasi Covid-19 telah dilakukan di seluruh dunia. Saat ini masyarakat sudah mulai mendaftarkan diri untuk divaksinasi untuk dosis pertama, atau kedua. Lalu apa yang terjadi bila kamu jatuh sakit pada hari yang dijadwalkan? Haruskah kamu tetap divaksinasi jika sakit atau mengalami gejala seperti pilek?

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit nomor HK.02.02/4/4/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19 dan Kematerian kesehatan ada beberapa syarat yang wajib kamu patuhi. 

  • Tidak pernah terpapar Covid-19. Atau mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti batuk/pilek/sesak napas dalam 7 hari terakhir.
  • Suhu tubuh penerima harus di bawah 37,5 derajat celcius. Bila suhu tubuh di atas itu maka harus ditunda hingga sembuh.
  • Jika lebih dari itu maka pasien dinilai sedang demam dan pemberian vaksin harus ditunda. Penundaan dilakukan hingga pasien sembuh dan terbukti tidak menderita Covid-19.
  • Tekanan darah harus di bawah 140/90 mmHg. Bila di atas 140/90 mmHg, pengukuran tekanan darah diulang 5-10 menit kemudian. Jika masih tinggi vaksinasi ditunda sampai terkontrol.
  • Jika dalam kondisi hamil, menyusui, mengidap gejala ISPA dalam tujuh hari terakhir, memiliki riwayat alergi berat, penyakit ginjal, rematik, sakit saluran pencernaan kronis maka vaksinasi tidak diberikan.
  • Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit autoimun. 
  • Bagi penderita diabetes melitus DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen maka vaksinasi tidak diberikan.
  • Tidak memiliki penyakit paru seperti asma dan TBC. Pasien TBC dalam pengobatan dapat diberikan vaksinasi, minimal setelah dua minggu mendapat obat anti Tuberkulosis. Tetapi bagi yang sedang menjalankan penyakit kanker tidak boleh disuntikkan vaksin.
  • Tidak menderita HIV. Jika menderita HIV tanyakan angka CD4-nya. Bila CD4 <200 atau tidak diketahui maka vaksinasi tidak diberikan.
  • Bila setelah vaksinasi Covid-19 muncul alergi berat makan suntikan kedua tidak diberikan.

Untuk penyakit lain yang tidak disebutkan, kamu bisa berkonsultasi dengan  dokter ahli. Disarankan saat mendatangi tempat layanan vaksinasi dapat membawa surat keterangan atau catatan medis dari dokter yang menangani selama ini. Sementara itu, bagi penyintas Covid-19, bisa mendapatkan vaksinasi setelah tiga bulan sembuh.[]

Azhar Ilyas

https://akurat.co