Rahmah

Bolehkah Anak Berdebat dengan Orang Tuanya?

Hukum berdebat antara anak dan orang tuanya


Bolehkah Anak Berdebat dengan Orang Tuanya?
Ilustrasi orang berdebat (Unsplash)

AKURAT.CO Debat adalah kegiatan argumentasi yang bertujuan untuk menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan pendapat orang lain. Penyebab terjadinya debat adalah adanya perbedaan pendapat oleh pihak-pihak yang meyakini pendapatnya merupakan suatu kebenaran. Debat terjadi secara alami di dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun bagaimana jika debat itu dilakukan oleh anak kepada orang tuanya? Syaikh Ibrahim Al-Bajuri mengatakan sebagaimana demikian;

وأما إذا كان لإحقاق حق وإبطال باطل أي لإظهار حقيقة الحق وإظهار بطلان الباطل فممدوح شرعا ولو من ولد لوالده فيكون عقوقا محمودا 

Artinya: “Adapun bila itu bersifat mengungkapkan yang hak dan menyatakan kebatilan, yaitu menjelaskan hakikat yang hak dan menjelaskan kebatilan sesuatu yang batil, maka itu terpuji menurut syariat, sekali pun itu dilakukan oleh anak terhadap kedua orang tuanya, maka itu terbilang ‘durhaka’ yang terpuji,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Syarah Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124).

Dalam kitab yang sama Syaikh Ibrahim Al-Bajuri juga mengatakan demikian;

كالمراء) هو لغة الاستخراج يقال ما روى فلان فلانا إذا استخرج ما عنده وعرفا منازعة الغير فيما يدعي صوابه ومحل كونه مذموما إذا كان لتحقير غيرك وإظهار مزيتك عليه 

Artinya: “[Jauhi tindakan tercela] (seperti berdebat), secara bahasa artinya mengeluarkan sebagaimana kalimat, ‘Fulan mengeluarkan fulan,’ yaitu ketika si fulan meminta mengeluarkan sesuatu yang ada pada fulan. Secara adat, debat itu berselisih [debat atau sanggah] orang lain perihal sesuatu yang didakwakan kebenarannya. Tindakan ini menjadi tercela karena terletak pada sikap meremehkan orang lain dan menyatakan keistimewaan kita atas orang lain itu” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Syarah Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124).

Dari penjelasan di atas, debat yang dilakukan anak kepada orang tuanya bukan suatu yang baik, bahkan masuk dalam kategori tercela. Kecuali jika demi menunjukan yang benar-benar bahwa suatu hal merupakan perkara batil dan tidak boleh dijauhi. Atau sesuatu itu merupakan sesuatu yang hak dan harus diperhatikan. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online