News

BMKG: Ada Fenomena La Nina, Curah Hujan Diprediksi Masih Tinggi di Maret dan April

Fenomena iklim global La Nina mengakibatkan curah hujan dipredisi meningkat hingga 40 persen


BMKG: Ada Fenomena La Nina, Curah Hujan Diprediksi Masih Tinggi di Maret dan April
Pejalan kaki melintas di tengah genangan banjir yang merendam kawasan Stasiun Tebet, Jakarta, Kamis (18/2/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Musim hujan 2020-2021 dipengaruhi fenomena iklim global La Nina. Akibatnya curah hujan diprediksi meningkat hingga 40 persen. Dan La Nina diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya hingga Mei 2021.

"Saat ini hampir sebagian besar wilayah Indonesia yaitu 96 persen dari Zona Musim telah memasuki musim hujan," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam rilisnya, Minggu (21/2/2021).

Diprakirakan pada Maret-April 2021 curah hujan di sebagian besar Wilayah Indonesia masih berpotensi menengah hingga tinggi (200-500 mm/bulan). Sedangkan sebagian besar Papua dan sebagian Sulawesi berpotensi mendapatkan curah hujan bulanan kategori tinggi-sangat tinggi atau lebih dari 500 mm/bulan.

Sementara Mei memasuki masa transisi dari musim hujan ke kemarau dan pada Juni-Agustus sebagian besar wilayah seperti Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan Papua diprakirakan mendapatkan curah hujan kategori menengah-rendah (20-150 mm/bulan).

"September diprediksikan juga masih kemarau, sementara Oktober memasuki transisi musim kemarau ke musim hujan dan diprakirakan November kembali memasuki musim hujan," kata Herizal.

Herizal menambahkan, musim kemarau diperkirakan lebih basah dibandingkan normalnya karena itu tetap perlu diwaspadai potensi bencana hidrometeorologi hingga April 2021.

"Musim kemarau tahun ini tidak sekering musim kemarau pada biasanya atau juga dibandingkan musim kemarau 2019," kata dia.

Karena itu masih perlu diwaspadai potensi banjir yang berpeluang terjadi pada Maret-April 2021, namun juga perlu dimanfaatkan potensi curah hujan kategori menengah dan tinggi pada Maret dan April untuk mengisi waduk, bendungan dan embung sebagai cadangan air untuk mengantisipasi musim kemarau.[]