News

BKKBN: Angka Kehamilan Tak Dikehendaki Tinggi Selama Pandemi

"Kehamilan yang tidak diharapkan itu masih cukup tinggi ya. Secara nasional angkanya kan masih 17 persen rata-rata," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.


BKKBN: Angka Kehamilan Tak Dikehendaki Tinggi Selama Pandemi
Ilustrasi ibu hamil. (PIXABAY.COM)

AKURAT.CO Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatatkan tingginya angka kehamilan tak dikehendaki (KTD) selama masa pandemi Covid-19 ini.

"Kehamilan yang tidak diharapkan itu masih cukup tinggi ya. Secara nasional angkanya kan masih 17 persen rata-rata," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo saat dihubungi, Selasa (19/10/2021).

Hasto menuturkan, angka kehamilan secara nasional ada di angka 4,8 - 5 juta. Dengan kata lain, kasus KTD diperkirakan mencapai 700 ribuan.

"Hitungannya sejak awal pandemi hingga sekarang. Iya angka terakhiran," ujar mantan bupati Kulon Progo ini.

Masih tingginya angka KTD tahun ini dipengaruhi beberapa faktor. Kata Hasto, pertama adalah minimnya pengetahuan seksual yang memicu pernikahan dini karena hamil di luar nikah.

"Jadi banyak rekomendasi nikah itu, kan 80 persen yang minta rekomendasi nikah ternyata karena alasannya hamil duluan. Ini juga sebetulnya kehamilannya juga belum dikehendaki jadi setelah nikah baru bisa diterima (dikehendaki) gitu," paparnya.

Faktor kedua, lanjut Hasto, disebabkan karena pasangan usia subur pasca-persalinan atau pasca-abortus tak segera menerapkan kontrasepsi.

"Karena banyak orang yang mengabaikan, dalam arti, mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi tapi percaya diri menjaga agar tidak hamil. Ternyata hamil. Kehamilan ini tidak terlalu diharapkan," imbuhnya.

"Itulah yang membuat juga stunting itu perlu perhatian sejak hamil, tapi ternyata perhatiannya kurang karena kehamilannya saja tidak begitu diharapkan," sambungnya.

Faktor ketiga, kata Hasto, adalah situasi pandemi Covid-19. Meski tak berpengaruh secara signfikan, akan tetapi memicu kekhawatiran masyarakat berkonsultasi tentang keikutsertaan dalam program keluarga berencana (KB) di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).  

"Itu salah satu faktor yang mengapa orang putus pakai kontrasepsi. Biasanya suntik terus, waktu pandemi fasyankes berkurang untuk waktu dan jumlah pelayanan sehingga ada banyak yang putus pemakaian kontrasepsi," ujarnya.

Hasto merinci, dari total angka KTD yang dipengaruhi faktor putus kontrasepsi sebanyak 10-15 persen. Dari persentase itu sebagian disebabkan kekhawatiran datang ke fasyankes karena situasi pandemi Covid-19.

"Ada dan perannya sekitar 10 persen," sebut Hasto.

Lebih jauh, Hasto juga mendetail bahwa dari angka 17 persen KTD itu dialami mereka yang berusia 15-40 tahun.

"Sebaran untuk unwanted pregnancy masih merata. Karena dia yang sudah nikah, istilahnya juga unwanted karena tidak pakai kontrasepsi akhirnya hamil. Artinya bukan hanya orang di bawah 20 tahun saja yang unwanted pregnancy," pungkasnya.[]