Tech

Bisnis TI di Indonesia Kehilangan Rata-rata Rp16,5 Miliar karena Ancaman Virtual


Bisnis TI di Indonesia Kehilangan Rata-rata Rp16,5 Miliar karena Ancaman Virtual
Ilustrasi - Malware (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO, Bisnis e-commerce di Indonesia mengalami perkembangan pesat dengan jutaan pengguna internet dan smartphone. Seiring dengan kenaikannya, muncul risiko keamanan siber, terutama dengan kemajuan teknologi di tempat seperti 5G, IoT, dan masih banyak lagi.

Perusahan keamanan siber Kaspersky menyatakan faktanya, para pembuat keputusan bisnis TI di Indonesia mengakui kehilangan rata-rata $1,10 juta (sekitar Rp16,5 miliar) karena ancaman virtual ini berdasarkan penelitian tahun lalu. 

General Manager for SEA at Kaspersky, Yeo Siang Tiong mengatakan pihaknya juga menemukan bahwa 53 persen bisnis di Asia Tenggara yang mengalami pelanggaran data membayar kompensasi kepada klien atau pelanggan.

Sementara 51 persen mengalami masalah dengan menarik pelanggan baru, dikenai penalti atau denda 41 persen dan sebanyak 30 persen kehilangan beberapa mitra bisnis.

Dalam hal data yang terlibat, sebagian besar insiden melihat kebocoran detail terkait dengan pelanggan. Seperti informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi (53 persen), kredensial otentikasi (33 persen), rincian pembayaran atau kartu kredit (32 persen), nomor rekening (27 persen), dan keterangan pribadi lainnya (26 persen).

"Karena akibatnya yang serius, pelanggaran data harus menjadi perhatian utama, terutama bagi perusahaan skala besar yang mengelola jutaan data orang," ujar Yeo dalam keterangan tertulis yang diterima AkuratIptek, Selasa (5/5/2020).

Cara bisnis menyimpan dan menggunakan data pelanggan, sebut dia, memainkan peran penting dalam membentuk dan mempertahankan reputasi dan operasinya. Yeo mengimbau agar perusahaan kecil dan menengah berusaha mencegah pelanggaran data. 

"Penting bagi perusahaan untuk mengetahui proses, alat dan orang-orang yang terlibat, untuk dapat mendefinisikan risiko Anda dan cara untuk memitigasinya," tandasnya.