Rahmah

[Bincang Hikmah] Syafiq Hasyim: Beragama dalam Rimbunan Tradisi

Beragama tanpa mempertimbangkan tradisi akan sulit menemukan keabadian


[Bincang Hikmah] Syafiq Hasyim: Beragama dalam Rimbunan Tradisi
Syafiq Hasyim dalam Bincang Hikmah (Akurat.co/Lufaefi)

AKURAT.CO Minggu (31/01/2021) Bincang Hikmah kembali diselenggarakan atas kerjasama Akurat.co dan Akurat Poll. Pada kali ini, kegiatan tersebut mengangkat tema "Beragama dalam Rimbunan Tradisi" dengan narasumber Syafiq Hasyim, Direktur International Center for Islam and Pluralisme Jakarta.

Dalam program yang dimoderatori oleh Abdul Muid Nawawi itu, Syafiq, sapaan akrab Syafiq Hasyim menyebut tradisi yang membentuk model keberagamaan di Indonesia sangat beragam jenisnya. Sehingga menurutnya, tak perlu memaksakan satu model keberagamaan di Indonesia dengan menganggap paling benar dan yang menyalahkan model yang lain.

"Tradisi di negara kita cukup beragam. Itu yang kemudian membentuk model keberagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya." Sebut beliau dalam program yang disiarkan via zoom itu.

Syafiq menyebut, meskipun tradisi keberagamaan di Indonesia cukup banyak modelnya, namun tetap yang mendominasi adalah model keberagamaan dua organisasi Islam mainstream yaitu NU dan Muhammadiyah. NU, sambung beliau, lebih menitikberatkan menjaga sisi-sisi tradisional sementara Muhammadyah bergerak progresif ke depan.

Meskipun demikian, lanjutnya, kedua model keberagamaan di Indonesia yang digawangi NU dan Muhammadiyah saling melengkapi. Keduanya menjadikan model keberagamaan di Indonesia dikenal inklusif, toleran, dan pandai dalam menghargai perbedaan.

"Terbukti, dua corak keberagamaan yang dimotori NU dan Muhammadiyah itu dikenal moderat. Memperkokoh negara kesatuan. Bahkan menjunjung tinggi model negara dan ideologinya tanpa melepas ideologi keislamannya yang cukup kental." Sambungnya, sambil mengatakan bahwa demikian yang menanjadikan dirinya memilih UIN Jakarta, sebagai kampus yang menurutnya bisa mengakomodir keduanya.

Selain dua model keberagamaan di atas menurutnya, juga sebenarnya ada model keberagamaan yang lain seperti Salafi, HTI, Ikhwan Al-Muslimun, dan selainnya, yang seringkali memiliki pemikiran keagamaan yang ekslusif, bahkan intoleran. Model-model keberagamaan kelompok ini, menurut beliau, tidak sejalan dengan tradisi di Indonesia yang amat menghormati budayanya.

"Model keberagamaan yang lahir dari ruang transnasional juga kadang ikut mewarnai keberagamaan di negara kita. Namun tidak akan lama. Dengan sendirinya yang demikian akan hilang sendiri, sebagaimana misalnya HTI dan semacamnya." Pungkasnya.

Webinar Bincang Hikmah diadakan setiap hari Minggu, pukul 09.00-10.30 WIB, disiarkan langsung via Zoom dan YouTube Akurat.co dan Akurat Poll. Program tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.[]