Rahmah

Bincang Hikmah: Membangun Rumah Tangga Ibarat Shalat Berjamaah

Bincang Hikmah: Membangun Rumah Tangga Ibarat Shalat Berjamaah
David Chalik saat wawancara eksklisif bersama AKURAT.CO dalam kesempatan acara Bintang Hikmah di Rukan Permata Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8/2020). (AKURAT.CO/Risma Afifah Yuandrus)

AKURAT.CO Program Bincang Hikmah “Beragama yang Mewarna-Warni” tidak hanya membahas seputar esensi Islam sebagai agama kasih sayang dalam kaitannya dengan konteks keberagaman. Program tersebut juga memberikan satu pelajaran penting, yaitu terkait cara yang baik membangun rumah tangga.

Program yang dihelat atas kerjasama Akurat Poll dan Akurat.co pada hari Sabtu, 08 Agustus 2020 itu mendiskusikan banyak persoalan keislaman. Acara yang diadakan langsung di kantor redaksi Akurat.co ini juga ditayangkan melalui kanal Youtube, fanspage Facebook dan juga melalui Instagram Akurat.co.

Salah satu pembahasan menarik dalam program ini adalah persoalan rumah tangga. Setiap orang yang berumah tangga memiliki problemanya masing-masing. Tinggal bagaimana mencari solusi agar bisa berjalan harmonis. Tanpa perceraian.

baca juga:

Dalam Bincang Hikman kali ini, David Chalik memberikan filosofi membangun rumah tangga dari praktik shalat berjamaah. Di dalam shalat berjamaah diperlukan adanya imam dan makmum. Shalat jama’ah yang baik dan sah tentu saja adalah shalat jama’ah yang mana imam harus mumpuni dalam ilmu. Ia harus bisa menyempurnakan rukun-rukun sebagai seorang imam.

“Dalam pernikahan pun demikian, untuk bisa menghasilkan keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah harus dimulai dari pribadi seorang imamnya. Ia harus membenahi diri dulu sebelum menikah agar menjadi pribadi yang taat, baik dan saleh,” papar David.

Membangun rumah tangga seorang imam, dalam hal ini suami, lanjutnya, harus bisa menjadi pengayom keluarga. Menurut David dalam acara Bincang Hikmah yang dihelat setiap hari Sabtu itu, seorang suami tidak boleh memarahi istri.

“Ketika istri melakukan pekerjaan yang salah, tidak seharusnya diberikan sikap kasar. Akan tetapi ia harus membangun harmoni dalam setiap problematika yang dihadapi dalam keluarga.”

Dalam konteks membangun rumah tangga yang tidak boleh terjadi pertengkaran di dalamnya, David memberikan satu argumen sejarah Islam soal Nabi Ibrahim dan Bapaknya. Ketika Ayah Ibrahim masih menyembah Patung, dan Ibrahim telah beriman, Ibrahim mengingatkan Ayahnya dengan cara-cara santun.

Bahkan, Ibrahim mengajak diskusi dengan Ayanya itu secara intens agar muncul kesadaran. Tidak ada kata kekerasan yang dilontarkan Ibrahim sedikitpun dalam upaya mengingatkan orang yang telah berjasa dalam hidup Ibrahim itu, walaupun dalam persoalan keimanan.

Maka hendaknya baik suami kepada istri, maupun suami atau istri kepada anak-anaknya, tidak membangun lingkungan keluarga yang tidak harmonis dengan selalu menampilkan sikap kasar ketika terjadi kesalahan kepada salah satu anggota keluarga.

“Cara membangun rumah tangga yang baik salah satunya adalah mengindari kekerasan semaksimal mungkin dalam problem apapun,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, Host Abdul Mu’id juga memberikan filosofi sederhana. Dalam Al-Qur’an istri kerapkali disebut dengan istilah “Qurrata A’yun” yang maknanya adalah permata. Sebagai permata maka tidak seharusnya dirusak, diperlakukan kasar.

“Seperti juga seorang istri. Ia adalah permata yang tidak sepatutnya diperlakukan kasar sebagaimana permata. Permata harus selalu dijaga dengan baik agar selalu terlihat baik, di depan Allah maupun manusia,” ungkap Abdul Mu’id. (Eep/cw)

 

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu