Rahmah

Bincang Hikmah: Kerahmatan Islam Melampaui Ruang dan Waktu

Bincang Hikmah: Kerahmatan Islam Melampaui Ruang dan Waktu
David Chalik saat wawancara eksklisif bersama AKURAT.CO dalam kesempatan acara Bintang Hikmah di Rukan Permata Senayan, Jakarta, Sabtu (8/8/2020). (AKURAT.CO/Risma Afifah Yuandrus)

AKURAT.CO Program Bincang Hikmah dengan tema “Beragama yang Mewarna-Warni” yang diadakan oleh Aktual Poll dengan Aktual.co memberikan banyak pesan keislaman bagi umat beragama, terutama umat Islam.

Diskusi santai yang dihadiri David Chalik dengan Host Abdul Mu’id memberikan pesan-pesan yang mesti direnungi secara mendalam bagi umat Islam, khususnya di masa sekarang ketika Islam masih ditampilakan sebagiannya dengan wajah menakutkan.

Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, yaitu QS. Al-A’raf: 156 Allah Swt berfirman:

baca juga:

Rahmat-Ku (kata Allah) mencakupi segala hal

 Ayat Al-Qur’an di atas memberi isyarat kuat agar umat Islam selalu menampilkan kerahmatan (kasih sayang) terhadap apapun. Bukan hanya kepada sesama umat manusia, tetapi juga kepada seluruh alam. Dengan sesama manusia tidak boleh saling memusuhi. Dengan binatang tidak boleh menyakiti. Bahkan terhadap dedaunan yang gugur dari pohonnya tidak seharusnya diinjak-injak secara sengaja. Begitu semeskinya umat Islam bersikap dalam beragama.

Abdul Mu’id, host program “Beragama yang Mewarna-Warni” memberi logika sederhana atas implikasi firman Allah di atas. Menurutnya, Islam itu adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Ini tidak bisa dibantah oleh siapapun. Orang Islam dari kelompok mana saja akan meyakini bahwa Islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam (bukan hanya kepada kelompok yang sepaham).

“Maka konsekuensinya, jika ada orang yang mengaku Islam tetapi kelakuannya tidak rahmat, diduga keras ia belum berislam secara benar,” ucapnya.

Rasulullah sendiri diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.  Dalam salah satu ayat Al-Qur’an Allah menegaskan dalam QS. Al-Anbiya: 107:

Tidaklah Kami (Kami) mengutusmu (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi semesta. 

Ayat Al-Qur’an ini begitu sangat jelas memberi pesan bahwa panutan utama orang Islam Nabi Muhammad adalah pribadi yang penyayang kepada siapapun. Nabi Muhammad tidak saja penyang kepada sesama Msulim, namun juga kepada non-Muslim.

Dalam salah satu kisah diceritakan bahwa salah satu aktivitas sehari-hari Rasulullah adalah memberikan makan dan menyuapi orang Kafir yang buta yang menjadi pengemis di depan pintu Madinah. Bahkan walaupun orang Kafir tersebut justru mengolok-oloknya, beliau tetap istikamah memberikan makan kepadanya hingga Rasulullah wafat.

Menurut David dalam program tersebut, makna rahmat itu luas, berimplikasi kepada sikap kesetaraan, persamaan, keadilan, dan saling hormat menghormati. Itu sebabnya, sudah semestinya orang Islam memiliki sikap yang adil kepada siapapun.

“Tidak menindas kepada seorang pun dengan alasan apapun. Sebab Allah Swt pun menciptakan manusia ke muka bumi bukan tujuan itu, namun murni agar manusia menghamba secara maksimal”.

 Allah Swt berfirman dalam QS. Al-An’am: 65:

Tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah.

Implikasi bahwa Islam adalah agama yang rahmat kapanpun dan kepada siapapun juga memberi maksud bahwa tidak boleh orang Islam gampang menyalahkan. Prinsipnya, sebagaimana menurut David, adalah tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis.

Selama seseorang masih meyakini dan mengimani keduanya, tidak seorang pun boleh menghakiminya. Karena hakim yang sebenarnya hanyalah Allah Swt sebagai Yang Maha Kuasa.

Kiranya tidak ada pribadi yang patut ditiru dalam tauladan kerahmatan Islam kecuali Rasulullah. Akan kepada siapa lagi umat Islam meniru akhlak kalau bukan kepada beliau Muhammad Saw? Jangan sampai alih-alih kita ingin meniru Rasulullah tetapi terjebak kepada kepada perilaku meniru Iblis? Na’uzubillah.

 

 

Ainurrahman

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu