Rahmah

Bincang Hikmah: Ibadah Ritual Harus Berimplikasi Pada Kesalehan Sosial

Bincang Hikmah: Ibadah Ritual Harus Berimplikasi Pada Kesalehan Sosial
Artis David Chalik menjadi pembicara perdana dalam acara Bincang Hikmah dengan tema (Risma )

AKURAT.CO Sebagian umat Islam melakukan ritual ibadah hanya sebagai formalitas belaka. Mereka beribadah hanya untuk menghilangkan kewajiban. Akibatnya, ibadah yang dilakukan tidak memberi efek kepada kehidupannya di lingkungan sekitar. Ritual ibadahnya dilakukan secara rutin namun ia masih mencaci orang di luar kelompoknya. Mereka abai dengan penindasan, kemiskinan, dan problem sosial lainnya.

Dalam program Bincang Hikmah “Beragama yang Mewarna-warni”, pembicara David Chalik mengatakan, berislam yang demikian adalah berislam yang bertentangan dengan pesan Al-Qur’an bahwa suatu ibadah hendaknya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Allah Swt dalam QS. Al-Ankabut: 45 berfirman dengan kalimat yang jelas (sarih):

Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

baca juga:

Bagi David, ayat Al-Qur’an tersebut harusnya memberi pelajaran berharga bagi setiap orang Islam bahwa beribadah harus berdampak kepada kebaikan sosial. Ketika seseorang shalat, selain hatinya harus hadir, juga harus memberi dampak kepada akhlak yang baik kepada lingkungan sekitar.

Ketika membaca Al-Qur'an, di samping harus menemukan ruh bacaan wahyu Ilahi tersebut, seseorang juga harus mengaplikasikan esesni makna ayat-ayat Al-Qur’an dalam dunia sosial. Tidak melakukan perbuatan maupun ucapan yang justru bertolakbelakang dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

“Tidak ada nilai lebih dalam menjalankan ritual ibadah yang terhenti pada ritual belaka. Seseorang yang demikian hanya mendapatkan letih dan capek. Tentu pahala pun sulit kemungkinan untuk didapatkan. Sama halnya dengan ketika seseorang memiliki uang banyak namun ia tidak merasakan kebahagiaan hakiki, karena terhenti kepada pemenuhan duniawi, dan lepas dari tujuan ukhrawi”.

Maka, kata David, seseorang yang ritual ibadahnya rajin, sudah semestinya rajin pula menjaga hatinya untuk tidak menyakiti siapapun. Seseorang yang gemar membaca ayat-ayat Al-Qur’an sudah seharusnya gemar pula untuk menjaga lisan dari mengucapka hal-hal yang kotor. Seseorang yang akitf berpuasa sunnah juga harus aktif memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang ditemuinya.

Pada zaman Rasulullah beliau pernah menegur salah satu sahabat bernama Abdullah Ibn Amr Ibn ‘Ash karena suatu ketika ia sangat rajin beribadah akan tetapi abai dengan urusan dunianya. Ia ditegur karena berlebihan dalam beribadah, akan tetapi lupa dengan kemaslahatan lingkungan di sekitarnya.

Kiranya teguran Rasulullah kepada salah satu sahabatnya tersebut juga menjadi pengingat umat Islam agar beribadah tidak hanya memberi dampak kesalehan ritual, tetapi juga saleh sosial.

Rasulullah Saw sendiri adalah tauladan terbaik dalam hal beribadah yang baik sekaligus peduli dengan lingkungannya. Rasulullah adalah manusia sempurna yang rajin shalat malam, akan tetapi juga pribadi yang santun kepada lingkungan sekitar, bahkan kepada non-Muslim sekalipun.

Dalam fakta sejarah Rasulullah merupakan pribadi yang penyayang kepada seorang Kafir yang menjadi pengemis di depan pintu Masjid Nabawi. Bukan hanya memberikan makan kepadanya, namun ia juga menyuapinya.

David juga menyampaikan, sudah semestinya umat Islam sekarang menyadari dan merenungki kembali keberislamannya, bahwa jangan sampai umat Islam beribadah hanya sekadar ritual belaka, tapi tidak menyentuh hatinya.

“Jangan sampai umat Islam hanya rajin ke Masjid, membaca Al-Qur’an, dan berpuasa Senin-Kamis setiap waktu namun kurang peduli dengan kondisi lingkungan sekitar,” tandasnya. (Eep/cw)

 

 

 

 

Ainurrahman

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu