Ekonomi

Bidik Kurangi Defisit Anggaran, Pemerintah Pangkas Utang!

pemerintah akan terus berupaya untuk melakukan konsolidasi fiskal supaya defisit anggaran bisa kembali ke bawah 3 persen


Bidik Kurangi Defisit Anggaran, Pemerintah Pangkas Utang!
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bicara defisit anggaran saat acara Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II tahun 2022, Rabu (13/4/2022). (Tangkapan layar YouTube Kemenkeu)

AKURAT.CO, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan terus berupaya untuk melakukan konsolidasi fiskal supaya defisit anggaran bisa kembali ke bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2023. Menurutnya caranya untuk melakukannya adalah dengan mengurangi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Ia menyebut ada dua hal yang berkontribusi dalam menghemat penerbitan SBN. Hal yang pertama ialah penggunaan sisa anggaran tahun sebelumnya Saldo Anggaran Lebih (SAL).

" Dengan SAL tahun lalu kita mampu melakukan optimalisasi dengan potensi mengurangi defisit," ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat acara Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II tahun 2022, Rabu (13/4/2022).

baca juga:

Kemudian yang kedua, yaitu tingginya penerimaan negara. Ia menjelaskan dalam dua bulan pertama Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2022 sanggup membukukan surplus karena adanya peningkatan pendapatan negara yang signifikan akibat lonjakan harga komoditas.

" Kita melihat risiko global akibat normalisasi kebijakan moneter dan juga terjadi perang di Ukraina yang semua akan berpotensi menekan SBN dari yield dan demand-nya," jelasnya.

Di sisi lain, inflasi Indonesia sudah mulai naik sejak awal tahun 2022. Secara tahunan sampai Maret 2022 inflasi sudah mencapai 2,64 persen yang dipengaruhi oleh harga pangan, energi.

“ Inflasi di Indonesia Maret 2022 terkendali pada 2,64 persen secara tahunan. Hal ini didukung oleh masih cukup terkendali sisi penawaran di dalam respons kenaikan permintaan dan juga tetap terkendali ekspektasi inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah serta respons kebijakan pemerintah terutama dalam menjaga barang-barang yang sudah diatur pemerintah,” tambahnya.

Sekadar informasi, walaupun ditengah tekanan yang meningkat akibat peperangan Rusia dan Ukraina, stabilitas keuangan Indonesia berada dalam kondisi normal. Menurutnya perbaikan ekonomi global mengalami tekanan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang disertai volatilitas pasar keuangan yang meningkat seiring dengan eskalasi dari perang tersebut.[]

“Ekpsektasi yang tadinya positif dalam pemulihan ekonomi global seiring dengan meredanya covid-19 tertahan atau mengalami tekanan karena ekskalasi dari kondisi perang yang terjadi di Ukraina sejak tanggal 24 Februari 2022,” urainya.[]