Ekonomi

Bidik Dana Segar, BBTN Bakal Terbitkan Rights Issue

Bidik Dana Segar, BBTN Bakal Terbitkan Rights Issue
Petugas beraktivitas di Kantor Pusat BTN, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Selasa (9/11/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) akan menerbitkan rights issue pada Desember 2022 dengan membidik dana segar Rp4,13 triliun. Pemerintah akan melakukan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp2,48 triliun sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya sebesar 60 persen.

Para investor diminta dapat mengamati peluang pada rights issue saham untuk mendapatkan keuntungan yang ditentukan oleh harga pasar dan harga diskon saham baru.

Kiwoom Sekuritas Indonesia menyakini kinerja Bank BTN akan terus meningkat tahun ini dan setelah rights issue. Kiwoom menargetkan pendapatan bunga BTN tahun ini akan mencapai Rp28,8 triliun atau meningkat 12 persen secara year on year (YoY), sedangkan tahun 2023 pendapatan bunga BTN diperkirakan akan tumbuh sekitar 10 persen menjadi Rp31,6 triliun.

baca juga:

"Selain itu, kami memproyeksi laba bersih (BBTN) Rp3 triliun pada 2022, meningkat 26 persen secara YoY dengan asumsi return on equity (ROE) sebesar 13 persen," tulis Kiwoom dalam risetnya dikutip Senin (5/12/2022).

Kiwoom memprediksi laba bersih BBTN pada 2023 nanti menembus Rp3,5 triliun, naik 15 persen secara YoY dengan rasio ROE sebesar 11 persen.

Kiwoom memberikan rekomendasi pembelian saham BBTN dengan target harga Rp2.030. Target ini setara dengan potensi kenaikan 34 persen dibandingkan harga penutupan BBTN akhir pekan lalu sebesar Rp 1.515 per saham.

Menurut Kiwoom, kinerja hingga September 2022 telah sesuai target manajemen BBTN yang menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tahunn ini sebesar 9-10 persen, pertumbuhan kredit 9-10 persen, NPL di bawah 3,5 persen dan NIM di kisaran 4,2-4,4 persen. 

Hingga akhir kuartal III-2022, BBTN mencatatkan pertumbuhan simpanan sebesar 7,41 persen, pertumbuhan kredit 7,18 persen dan NIM telah melampaui target sebesar 4,51 persen.

Optimisme Kiwoom didasari permintaan terhadap Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi akan terus meningkat pada 2022. Hal ini dipicu kenaikan subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2023 dengan nilai Rp25,18 triliun untuk 220.000 unit rumah.

Hal ini jelas positif lantaran BTN merupakan pemain utama dalam bisnis KPR bersubsidi. Hingga akhir September 2022, BTN memiliki portofolio KPR sebesar Rp242,7 triliun dengan porsi KPR subsidi mencapai Rp129,97 triliun.

Kiwoom juga menyatakan rights issue yang akan dilakukan oleh BTN akan menopang kinerja pada tahun depan. Rights issue itu dinilai akan meningkatkan capital adequacy ratio (CAR) BTN.

Di sisi lain, Kiwoom menyoroti perbaikan struktur dana BTN yang berdampak pada penurunan biaya dana. Hingga akhir September 2022, BBTN menghimpun dana tabungan dan giro atau current account saving account (CASA) sebesar Rp143,59 triliun atau naik 18,7 dibandingkan setahun sebelumnya. 

Hal ini mendorong komposisi CASA di antara DPK dan wholesale funding naik menjadi 40,68 persen, sementara setahun sebelumnya di 36,3 persen. Sebaliknya porsi deposito turun menjadi 47,35 persen dari sebelumnya 51,16 persen. Begitu pula wholesale funding turun menjadi 11,37 persen dari sebelumnya 12,49 persen.

"Pendanaan dari CASA akan terus bertambah, sehingga BBTN bisa menekan biaya dana dan meningkatkan NIM," tulis riset Kiwoom.

Dengan optimisme terhadap kinerja BTN di akhir tahun ini dan proyeksi pertumbuhan bisnis 2023, Kiwoom memberikan rekomendasi overweight untuk saham BBTN dengan target harga Rp2.030. Target tersebut merefleksikan price to earning ratio (PER) di angka 7,2x dan price to book value (PBV) 0,9x pada 2022. 

Kiwoom juga memprediksi PER BBTN akan naik menjadi 8,9x dan PBV naik menjadi satu kali di tahun 2023. Selain itu, memprediksi dividend yield BBTN akan berada di 2,8 persen untuk kinerja 2022 dan 3,4 persen pada 2023 nanti.