Ekonomi

Biaya Logistik RI Masih Mahal tapi Bermimpi Jadi Poros Maritim Dunia, Kok Bisa?

Menteri Erick menyebutkan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi untuk menjadi poros maritim di dunia. 


Biaya Logistik RI Masih Mahal tapi Bermimpi Jadi Poros Maritim Dunia, Kok Bisa?
Aktivitas Bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi untuk menjadi poros maritim di dunia. 

"Salah satu pilar tentunya terdapat pada kemampuan kita budaya maritim itu sendiri. Baik pengelolaan sumber daya alam pengembangan infrastruktur yang penting saat ini dan konektivitas maritim guna kita menjadi poros maritim dunia," ujar dalam acara seminar daring di Jakarta, Selasa (23/11/2021). 

Erick mengatakan, sesuai dengan Nawacita yang diusung Presiden Jokowi, BUMN siap memikul amanah untuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang menghubungkan produksi ke distribusi, dari Sabang sampai Merauke. 

Namun ia menyayangkan bahwa saat ini Industri logistik Indonesia menghadapi tantangan dan tekanan sesuai dengan kerentanan supply chain global seperti halnya jumlah kontainer yang defisit.

Ia pun menuturkan bahwa kebijakan perdagangan global yang telah disampaikan oleh Presiden Jokowi ketika G20 mengenai rantai pasok sangat berpengaruh terhadap sumber daya alam Indonesia.

"Kebijakan perdagangan global yang kemarin disampaikan oleh Bapak Presiden RI ketika G20 mengenai rantai pasok, ini juga sangat memengaruhi di mana kita juga diminta sumber daya alam kita dikirim ke luar negeri sebesar besarnya. Itulah hal yang memang kebijakan ini harus tentu kita seimbangkan dan seperti yang disampaikan oleh bapak Presiden RI kita harus lawan, kita tidak anti asing tetapi penting bagi kita untuk memastikan pasar kita sebagai pertumbuhan ekonomi kita. Sumber daya alam kita untuk pertumbuhan ekonomi kita,” tegasnya.

Oleh karena itu, Erick memastikan bahwa dengan penyatuan Pelindo efektivitas tol laut dapat mengatasi berbagai kendala dan biaya logistik.

"Seperti yang kita ketahui kemampuan mengatasi biaya logistik sangat berpengaruh dan meningkatkan daya saing kita sebagai negara titik biaya logistik Kita Masih mahal 23 persen dari GDP masih tinggi dibandingkan negara lain Singapura 8persen, India 13 persen, Malaysia 13 persen, kenapa kita tidak bisa?," jelasnya.

Selain itu Erick juga berharap, dengan penggabungan Pelindo dapat memberikan manfaat lain seperti pengembangan pelayanan terintegrasi, peningkatan kapasitas pelabuhan, percepatan standarisasi operasional, peningkatan akses serta kedalaman kolam pelabuhan.

"Efisiensi biaya logistik akan memberikan pengaruh kepada meningkatnya perekonomian nasional yang memang kita harus menjadi sentralnya dunia Apalagi kita sekarang menjadi Presiden G20," pungkasnya.[]