Ekonomi

BI Ultimatum Perbankan untuk Segera Turunkan Suku Bunga Kredit

Suku bunga kredit dipengaruhi oleh tiga faktor yakni suku bunga dana atau cost of fund, biaya administrasi dan premi risiko


BI Ultimatum Perbankan untuk Segera Turunkan Suku Bunga Kredit
Teller Bank BNI melayani nasabah di Gedung BNI Pusat, Jakarta, Senin (23/7/2018) .PT Bank Negara Indonesia (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp 7,44 triliun pada Semester Pertama 2018 atau tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari penyaluran kredit Makro dan Mikro. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendorong perbankan untuk menurunkan tingkat bunga kredit. Ini karena bank sentral telah menambah likuiditas perbankan dan menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,75 persen.

“Kami juga terus dengan tidak segan-segan mengharapkan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong pemulihan ekonomi,” kata Perry Warjiyo dalam jumpa pers virtual usai Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Menurut dia, suku bunga kredit dipengaruhi oleh tiga faktor yakni suku bunga dana atau cost of fund, biaya administrasi dan premi risiko. 

Jika dihitung sejak Juli 2019, kata dia, bank sentral ini total sudah menurunkan 225 basis poin suku bunga acuan. Penurunan itu mendorong bunga pasar uang antarbank (PUAB) berada pada posisi rendah mencapai 3,29 persen pada Oktober 2020 dan suku bunga dana itu menurun.

“Jadi faktor pertama (suku bunga dana) ini mestinya bisa menurunkan suku bunga kredit,” katanya.

Sedangkan faktor kedua yakni biaya administrasi, kata dia, dengan adanya pandemi COVID-19 membuat perbankan melakukan digitalisasi, sehingga justru mendorong biaya administrasi menurun.

Meski begitu, penurunan suku bunga kredit di perbankan belum signifikan bahkan belum mencapai satu persen kendati bank sentral sudah menurunkan suku bunga acuan bahkan sebelum ada pandemi COVID-19.

BI juga sudah menambah likuiditas perbankan mencapai hingga Rp680,89 triliun hingga 17 November 2020 melalui penurunan giro wajib minimum (GWM) sebesar Rp155 triliun dan ekspansi moneter sebesar Rp510,09 triliun.

Gubernur BI memperkirakan perbankan masih memiliki persepsi risiko kredit yang dikucurkan di tengah menurunnya aktivitas ekonomi.

Sumber: Antara

Denny Iswanto

https://akurat.co