Ekonomi

BI Tambah Lagi Likuiditas Perbankan Rp118,35 Triliun, Pertanda Apa?

Hingga 31 Agustus 2021, BI telah menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp118,35 triliun.


BI Tambah Lagi Likuiditas Perbankan Rp118,35 Triliun, Pertanda Apa?
Petugas teller melayani nasabah di 'Money Changer' Jakarta, Jumat, Jumat (26/2/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memastikan terus menjaga kelonggaran likuiditas. BI pun tetap menambah likuiditas atau melakukan quantitative easing (QE) di perbankan. 

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, hingga 31 Agustus 2021, BI telah menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp118,35 triliun.

“Hingga 31 Agustus 2021, BI sudah melakukan injeksi likuiditas di perbankan sebesar Rp118,4 triliun. Kebijakan QE ini melanjutkan injeksi likuiditas tahun 2020 yang mencapai Rp726,57 triliun," ungkap Destry dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Menurut Destry, pada 2020 BI telah melakukan injeksi likuiditas mencapai Rp726,57 triliun. Dengan demikian, secara total dari 2020 hingga Agustus 2021 menjadi Rp844,92 triliun.

"Sejak 2020 sampai akhir Agustus 2021 kebijakan quantitative easing telah mencapai Rp844,92 triliun atau sekitar 5,3 persen dari PDB dan ini melalui injeksi likuiditas ke perbankan untuk mendukung program PEN," lanjutnya.

Destry menambahkan injeksi liikuiditas tersebut mendukung likuiditas perekonomian yang tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1), yang hingga Juli 2021 tumbuh 14,9 persen year on year (yoy). Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat tumbuh 8,9 persen yoy.

"Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang longgar terlihat pada rasio Alat Likuid Terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yaitu 32,51 persen dan pertumbuhan DPK sebesar 10,43 persen yoy," tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah menyuntikkan likuiditas atau melakukan quantitative easing di perbankan sebesar Rp833,9 triliun selama pandemi sejak tahun 2020 hingga 19 Juli 2021.

"Angka tersebut merupakan 5,4 persen dari produk domestik bruto (PDB)," ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta.

Untuk keseluruhan tahun ini saja, bank sentral telah menambah likuiditas di perbankan sebanyak Rp101,1 triliun per 19 Juli 2021.

Menurut Perry, penambahan likuiditas ke pasar uang dan perbankan bisa terus berlanjut karena didorong efektivitas stimulus kebijakan moneter BI.

"Penguatan strategi operasi moneter terus dilakukan untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter akomodatif," katanya. []