Ekonomi

BI Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 5,7%

Bank Indonesia (BI) merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 menjadi 5,7 persen.


BI Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 5,7%
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers di kantor pusat BI, Jakarta, Jumat (8/6). BI menyatakan inflasi bulan Juni bakal menyentuh 0,22 persen (month to month) dan 2,75 persen (year on year), sementara itu hingga 8 Juni siang penukaran uang masyarakat untuk lebaran telah mencapai Rp187,8 triliun atau 99,8 persen dari jumlah uang tunai sebesar Rp188,2 triliun yang disediakan BI untuk kebutuhan Idulfitri. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/18.)

AKURAT.CO, Bank Indonesia (BI) merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 menjadi 5,7 persen. Angka ini lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen.

“Perekonomian global diprakirakan tumbuh lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya dengan proses pemulihan global yang semakin tidak merata antarnegara,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara virtual, Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Perry memaparkan, perkembangan tersebut terutama didorong oleh perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China yang berlangsung lebih cepat dibandingkan negara lainnya. 

Di AS, lanjut Perry, perbaikan ekonomi diprakirakan semakin kuat, sejalan dengan proses vaksinasi yang berjalan lancar dan tambahan stimulus fiskal yang lebih besar. Di China, pemulihan ekonomi yang lebih tinggi ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan global.

“Pemulihan ekonomi global yang lebih tinggi terkonfirmasi oleh perkembangan sejumlah indikator dini pada Maret 2021, seperti Purchasing Managers' Index  (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel di beberapa negara yang terus meningkat,” lanjutnya.

Sejalan dengan perbaikan ekonomi global tersebut, volume perdagangan dan harga komoditas dunia terus meningkat, sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang yang lebih tinggi, termasuk Indonesia. 

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan dan volatilitas yield UST masih berlangsung seiring dengan lebih baiknya perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan persepsi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. 

Perkembangan ini berpengaruh terhadap aliran modal masuk ke sebagian besar negara berkembang yang lebih rendah, dan berdampak pada tekanan mata uang di berbagai negara tersebut, termasuk Indonesia. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu