Ekonomi

BI Klaim Injeksi Likuditas Rp781,29 Triliun Terbesar di Kawasan

Indonesia telah menggelontorkan injeksi likuiditas ke negara hampir sebesar 5,06 persen PDB.


BI Klaim Injeksi Likuditas Rp781,29 Triliun Terbesar di Kawasan
Suasana gedung Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, Bank Indonesia memiliki beberapa instrumen termasuk yang sifatnya hedging instrumen seperti Domestic Non Delivery Forward (DNDF). Instrumen transaksi DNDF ini memberikan alternatif lindung nilai bagi pelaku pasar, sehingga mengurangi demand di pasar spot. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan, Indonesia telah menggelontorkan injeksi likuiditas ke negara hampir sebesar 5,06 persen Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp781,29 triliun.

"Quantitative easing saja dari bank sentral itu sebesar 5,06 persen PDB," katanya saat webinar “Meningkatkan Efektivitas Pemulihan Ekonomi Nasional”, Jakarta, Kamis (3/6/2021).

Ia menuturkan, nilai tersebut lebih besar jika dibandingkan negara tetangga lainnya.

Adapun injeksi likuiditas yang dilakukan BI lewat operasi moneter seperti perjanjian pembelian kembali (repurchase agreement/repo) antara perbankan dan bank sentral.

BI juga memastikan kondisi likuiditas longgar di perbankan agar fungsi intermediasi ke perekonomian berjalan lancar.

Selain itu, BI juga mengupayakan kebijakan penurunan suku bunga acuan yang telah dilakukan sejak 2020. 

Secara total, suku bunga kebijakan BI-7 Day Reverse Repo Rate pada 2020 telah dipangkas enam kali menjadi 3,5 persen. Level tersebut merupakan terendah dalam sejarah.

“Inflasi tetap terjaga, sehingga kita tidak merasa pelonggaran kebijakan moneter ini mengganggu inflasi,” ujar dia.

Selanjutnya pada tahun ini kebijakan BI akan menjaga kondisi likuiditas longgar. Arah kebijakan moneter tetap akomodatif terhadap pemulihan ekonomi dan sinergis dengan pemerintah.

"Kita akan terus melihat dampak dari likuiditas terhadap inflasi, (melihat) dampak dari likudiitas terhadap kredit yang terlampau besar, dan itu mungkin akan belum kita lihat di tahun 2021 ini. Berarti stance (arah) kita masih longgar,” ujarnya. []