Ekonomi

BI dan Jepang Perkuat Kerja Sama Mata Uang Lokal, Ini Manfaatnya

BI dan Kemenkeu Jepang Jepang (JMOF) pada hari ini (5/8/2021) menyepakati penguatan kerangka kerja sama penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal.


BI dan Jepang Perkuat Kerja Sama Mata Uang Lokal, Ini Manfaatnya
Suasana gedung Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, Bank Indonesia memiliki beberapa instrumen termasuk yang sifatnya hedging instrumen seperti Domestic Non Delivery Forward (DNDF). Instrumen transaksi DNDF ini memberikan alternatif lindung nilai bagi pelaku pasar, sehingga mengurangi demand di pasar spot. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan Jepang (JMOF) pada hari ini (5/8/2021) menyepakati penguatan kerangka kerja sama penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement /LCS1) antara kedua negara dalam Rupiah-Yen yang telah diimplementasikan sejak tanggal 31 Agustus 2020.

Dalam keterangan tertulis, Kamis (5/8/2021), penguatan dimaksud adalah memberikan pelonggaran aturan transaksi valas dalam kerangka penyelesaian transaksi bilateral kedua negara dengan Rupiah-Yen.

Antara lain mencakup perluasan instrumen lindung nilai, pelaksanaan hedging (lindung nilai) atas dasar proyeksi perdagangan dan investasi, peningkatan fleksibilitas transfer atas rekening IDR di Jepang, dan peningkatan threshold nilai transaksi tanpa dokumen underlying sampai dengan USD500.000 per transaksi.

Penguatan kerangka kerja sama yang berlaku efektif 5 Agustus 2021 ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendorong perdagangan dan investasi serta memperkuat stabilitas makroekonomi dengan mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas untuk penyelesaian perdagangan dan investasi langsung antara Indonesia dan Jepang.

Penguatan kerangka tersebut sejalan dengan Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh BI dan JMOF pada tanggal 5 Desember 2019.

Strategi penguatan kerangka kerja sama LCS merupakan bagian dari upaya bersama BI dan JMOF dalam mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas kepada pelaku usaha dan individu untuk memfasilitasi dan meningkatkan perdagangan, investasi langsung, serta kegiatan transaksi lainnya seperti remitansi antara Indonesia dan Jepang.

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan bahwa diperlukan upaya membuat rupiah lebih menarik untuk digunakan dalam implementasi mata uang lokal atau Local Currenct Settlement (LCS) RI.

“Ditataran makro, perlu upaya membuat mata uang rupiah lebih menarik untuk digunakan dalam kerja sama LCS ini,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal saat diskusi daring BPPP Kemendang.

Upaya membuat rupiah lebih menarik, lanjutnya, bisa dilakukan dengan meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap rupiah dengan didukung oleh kebijakan ekonomi makro yang tepat serta mengurangi risiko volatilitas nilai tukar rupiah.

Faisal berpendapat LCS hanya akan efektif jika biaya transaksi pertukaran antara satu mata uang lokal ke mata uang lainnya cukup rendah, karenanya dibutuhkan pasar pertukaran langsung antar mata uang utama.

“Ini membutuhkan pengaturan pasar pertukaran langsung antara berbagai mata uang utama serta memastikan ada likuiditas dan omzet yang cukup,” ujarnya. []