Ekonomi

BI Catat Neraca Pembayaran Triwulan III Surplus USD10,7 Miliar

BI mencatatkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2021 mengalami surplus USD10,7 miliar.


BI Catat Neraca Pembayaran Triwulan III Surplus USD10,7 Miliar
Suasana gedung Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019). Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, Bank Indonesia memiliki beberapa instrumen termasuk yang sifatnya hedging instrumen seperti Domestic Non Delivery Forward (DNDF). Instrumen transaksi DNDF ini memberikan alternatif lindung nilai bagi pelaku pasar, sehingga mengurangi demand di pasar spot. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatatkan neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2021 mengalami surplus USD10,7 miliar setelah mengalami defisit 0,4 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya.

Dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (19/11/2021), dehingga, hal ini menopang ketahanan eksternal.

Kinerja NPI tersebut ditopang oleh transaksi berjalan yang mencatat surplus yang berbalik dari triwulan sebelumnya yang tercatat defisit serta surplus transaksi modal dan finansial yang makin meningkat.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir September 2021 mencapai USD146,9 miliar atau lebih tinggi dibandingkan USD137,1 miliar pada akhir Juni 2021.

Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Kemudian, transaksi berjalan pada triwulan III 2021 mencatat surplus terutama ditopang oleh surplus neraca perdagangan barang yang naik signifikan.

Transaksi berjalan pada periode laporan mencatat surplus USD4,5 miliaratau 1,5 persen dari PDB setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit USD2,0 miliar atau 0,7 persen dari PDB.

Kinerja positif itu didorong oleh surplus neraca barang yang meningkat akibat kenaikan ekspor nonmigas sejalan dengan masih kuatnya permintaan dari negara mitra dagang dan berlanjutnya kenaikan harga komoditas ekspor utama di pasar internasional.

Di sisi lain, defisit neraca jasa tercatat lebih rendah yakni antara lain disebabkan oleh perbaikan kinerja jasa transportasi yang didukung oleh meningkatnya penerimaan jasa freight sejalan dengan peningkatan aktivitas ekspor.

Sementara, untuk defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran imbal hasil investasi langsung yang dipengaruhi oleh perbaikan kinerja korporasi berbasis sumber daya alam (SDA).

Transaksi modal dan finansial pada triwulan III 2021 mencatat surplus sebesar USD6,1 miliar atau 2 persen dari PDB yang lebih tinggi dari capaian surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD1,6 miliar atau 0,6 persen dari PDB.

Ini makin meningkat terutama bersumber dari investasi langsung. Aliran masuk neto atau net inflows investasi langsung tetap terjaga sebesar USD3,3 miliar.

Investasi lainnya juga mengalami surplus setelah mengalami defisit pada triwulan sebelumnya yang dipengaruhi penurunan pembayaran neto pinjaman luar negeri, peningkatan penempatan simpanan nonresiden di dalam negeri, serta tambahan alokasi special drawing rights (SDR).

Untuk investasi portofolio selama triwulan III 2021 juga mencatat net inflows yaitu sebesar USD1,1 miliar  meskipun menurun dari triwulan sebelumnya yang sebesar USD4,0 miliar sejalan dengan ketidakpastian pasar keuangan global.

BI juga memastikan Bank Indonesia akan senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI.

BI juga terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian serta melanjutkan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.[]