News

Besok, PPIM UIN Jakarta Luncurkan Hasil Penelitian Soal Pesantren dan Pandemi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren merupakan lingkungan yang berpotensi menjadi klaster penyebaran Covid-19


Besok, PPIM UIN Jakarta Luncurkan Hasil Penelitian Soal Pesantren dan Pandemi
Kegiatan di pondok pesantren (interest.com)

AKURAT.CO, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dukungan United Nations Development Program (UNDP) bakal meluncurkan hasil penelitian “Dampak dan Ketahanan Institusi Pendidikan Lanjutan Tingkat Atas di Pesantren saat Krisis Pandemi Covid-19: Studi 15 Pesantren wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat”. 

Dikutip dari rilisnya, Selasa (18/1/2022), peluncuran hasil penelitian tersebut akan digelar secara daring pada Rabu (19/1/2022). Selain itu, peluncuran hasil penelitian juga bisa disaksikan lewat kanal YouTube PPIM UIN Jakarta dan Convey Indonesia. 

Disebutkan bahwa penelitian ini dilakukan di 15 Pesantren di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pemilihan wilayah didasarkan pada tingginya kasus penyebaran Covid-19 pada tiga wilayah tersebut. Pesantren terpilih merupakan representasi afiliasi dari berbagai organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Afiliasi Gontor, Salafi, dan Tarbiyah. 

baca juga:

"Penelitian dilakukan mulai dari Mei-November 2021 sedangkan waktu pengumpulan data ialah Juli-September 2021," Koordinator Penelitian Pesantren dan Pandemi drg Laifa Annisa Hendarmin.

Penelitian dilakukan dengan convergent mixed method study. Dalam proses wawancara dan focus group discussion (FGD) terdapat 132 informan yang terdiri dari pimpinan pesantren (kiai), nyai, kepala sekolah, satuan tugas (satgas) Covid-19, guru, dan santri. Kemudian, untuk survei terdapat 819 responden guru dan santri yang mengisi kuesioner. Pertanyaan untuk mengecekan perhatian (attention checker) responden juga diberikan, maka data responden yang tidak fokus dalam pengisian kuesioner tidak diolah. Data survei guru dan santri yang diolah dalam penelitian ini adalah 658 responden. 

Karakteristik responden survei yaitu: santri (83,3%) dan guru (16,7%); sebagian besar adalah perempuan (55,9%), berasal dari wilayah kota (58,1%), sebagian besar tidak pernah terinfeksi Covid-19 (72%).  Untuk wilayah pesantren, sebagian besar berada di Kabupaten (70,8%), dan berasal dari afiliasi berbeda beda, yaitu: NU (30,5%), PERSIS (19,6%), Tarbiyah (16,9%), Muhammadiyah (13,8%), dan afiliasi Gontor (12,8%). 

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pesantren merupakan lingkungan yang berpotensi menjadi klaster penyebaran Covid-19, karena masyarakat pesantren hidup bersama di satu lingkungan dan banyak menyelenggarakan kegiatan komunal," paparnya. 

Dengan demikian, pesantren kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan dalam merespon pandemi, seperti penerapan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan, edukasi kesehatan, skrining Covid-19 saat kedatangan santri ke pesantren, testing, tracing, dan treatment. 

Selain itu, melalui penelitian ini diketahui pula tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat pesantren serta penerapan protokol kesehatan. 

Dari penelitian ditemukan sejumlah hal menarik. Misalnya, masih ada beberapa hal yang menunjukkan kurangnya pengetahuan mereka terutama terkait  wawasan baru terkait Covid-19, misalnya 52,1% tidak yakin rokok membuat seseorang lebih rentan terinfeksi Covid-19 dan 61,7% tidak yakin SARS-CoV2 varian delta lebih menular dari pada varian virus corona lainnya. 

Selanjutnya, terkait status vaksinasi, 70,5% responden telah mendapat vaksinasi. Namun, berdasarkan responden yang belum vaksin, sebanyak 36% mengaku raguragu dan tidak berminat mengikuti vaksinasi. Keluarga yang tidak setuju vaksinasi Covid-19, tidak yakin efektivitas vaksin, takut akan jarum suntik serta tidak percaya vaksin Covid-19 menjadi hal yang melatarbelakangi kondisi tersebut. 

"Dari hasil penelitian ini pun diketahui bahwa terdapat 5% orang yang menolak vaksin karena alasan agama," terang dia. 

Dalam hal keagamaan, santri menyadari Covid-19 berbahaya sehingga tidak mengadakan kegiatan keagamaan yang berkerumun. Akan tetapi dalam pemahaman terkait fikih wabah masih ada (49,7%) responden yang meyakini bahwa penanganan jenazah dengan protokol Covid-19 tidak sesuai syariat Islam. 

Hal ini mengindikasikan bahwa pesantren sebagai tempat mendalami ilmu keagamaan ternyata masih belum tuntas dalam pemahaman fikih ketika terjadi pandemi. Pada aspek religiusitas, Keimanan dan Ketakwaan kepada Allah swt mengalami peningkatan (85,3%) selama pandemi. Peningkatan keimanan dan ketakwaan tersebut dapat mendatangkan rasa aman, tenang, dan bahagia. 

Perilaku pencegahan masyarakat pesantren pun berkaitan dengan tingkat kepercayaan terhadap konspirasi dan kepercayaan terhadap pemerintah dan institusi politik (political trust). Dalam hal kepercayaan terhadap pemerintah dan institusi politik, masyarakat Pesantren memiliki kepercayaan yang rendah terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (33,4%) dan Partai Politik (27,5%). 

Sebagai akibat dari adanya ketidakpercayaan terhadap pemerintah, sebanyak 24,4% responden meyakini bahwa sistem demokrasi tidak bisa mengatasi krisis pandemi Covid-19 sehingga lebih baik diganti dengan sistem khilafah. Adapun sebanyak 64,8% responden menilai bahwa kesulitan Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 disebabkan oleh sistem dan pemimpin yang tidak kompeten.

"Dari keseluruhan penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan pesantren, antara lain kepemimpinan yang terbuka, demokratis dan responsif, jaringan atau kemitraan yang luas, sumber daya yang memadai, dan tata kelola yang profesional, serta peran nyai dan pemimpin perempuan yang menguat," papar Laifa. []