Ekonomi

Berusia 1 Abad hingga Kerap Dikira Karya Anak Bangsa, Ini 5 Fakta Mengejutkan Brand Sepatu Bata

Banyak yang mengira Bata adalah karya anak bangsa. Padahal, merek sepatu ini adalah salah satu produk luar negeri yang memang telah lama ada di Indonesia. 


Berusia 1 Abad hingga Kerap Dikira Karya Anak Bangsa, Ini 5 Fakta Mengejutkan Brand Sepatu Bata
Brand sepatu Bata. (bataindustrials.co.id)

AKURAT.CO, Bata adalah salah satu merek sepatu yang hingga kini masih beredar di Indonesia. Bahkan, usia perusahaan sepatu ini hampir mencapai satu abad. Namun, banyak yang mengira bahwa merek sepatu ini adalah karya anak bangsa. Padahal, merek sepatu ini adalah salah satu produk luar negeri yang memang telah lama ada di Indonesia. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik terkait merek produk sepatu Bata. 

1. Perusahaan asal Cekoslowakia

Dengan nama Perusahaan Sepatu T. & A. Bat’a, merek sepatu Bata didirikan oleh Tomas Bat’a, saudara laki-lakinya Antonin dan saudara perempuannya Anna pada tanggal 24 Agustus 1894, di mana keluarganya telah bekerja sebagai penjahit selama puluhan tahun. Di awal pendiriannya, perusahaan ini hanya mempekerjakan 10 karyawan. Modalnya ketika itu adalah sebesar USD 350. Sedangkan perusahaan tersebut didaftarkan di Kota Zlin, Ceko. 

2. Dipesan militer sebanyak 50 ribu buah

Setelah sempat mengalami kesulitan finansial, pendirinya memilih untuk belajar permesinan dan manajemen sepatu di Amerika Serikat selama 6 bulan. Begitu pulang, Tomas Bat'a memutuskan untuk banting setir membuat sepatu dari kanvas dan bukan lagi dari kulit. Tren ini membuat Bata terus melejit. Sedangkan ketika Perang Dunia I pecah, Bata mendapatkan pesanan sepatu dari tentara Austro-Hongaria sebanyak lebih dari 50 ribu sepatu sepanjang perang tersebut. 

3. Masuk Indonesia tahun 1931

Produksi sepatu Bata pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1931 dengan jalur impor dari Singapura oleh perusahaan Hindia Belanda NV Nederlandsch-Indische. Baru pada tahun 1939 silam, pabrik pertama merek sepatu yang berusia lebih dari 1 abad ini berdiri di Kalibata, Jakarta Selatan dan Kota Medan, Sumatra Utara. Selama lebih dari 50 tahun, produk Bata masih berstatus penanaman modal asing di mana produsen tidak bisa menjual secara langsung ke pasar. Maka dari itu, diperlukan sebuah perusahaan khusus yang menjual produk Bata ke pasar. 

4. Lakukan IPO

Pada tahun 1978, akhirnya Bata berubah status menjadi penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang akhirnya pada tahun 1982, melalui PT Sepatu Bata berhasil melakukan listing di BEI. Setelahnya, produk Bata terus melejit dengan produksi hingga 7 juta pasang setiap tahunnya yang terdiri dari 400 model berbagai produk mulai dari sepatu, sepatu sandal, hingga sandal yang terbuat dari berbagai bahan mulai dari karet, kulit hingga plastik. Bahkan, Bata berhasil bertahan meski diguncang badai krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 dan 2008 silam meski harus memindahkan pabriknya dari Kalibata ke Purwakarta.  

5. Berbagai inovasi di tengah pandemi 

Hingga kini, gerai Bata mencapai 460 toko di berbagai penjuru Nusantara. Jumlah tersebut menurun setelah perusahaan memutuskan untuk menutup sekitar 50 gerai karena salah satunya terdampak pandemi COVID-19. Sedangkan perusahaan juga melakukan berbagai inovasi. Beberapa di antaranya adalah program ChatShop, sebuah program yang dapat digunakan oleh pelanggan Bata untuk memesan berbagai produk dengan langsung dihubungkan ke WhatsApp. Selain itu, pihaknya juga terus menggencarkan platform online, mulai dari website Bata.id maupun berbagai toko resminya di sejumlah marketplace dan e-commerce. 

Meski pada tahun ini mengalami kerugian bersih mencapai Rp8 miliar, Bata tetap yakin mampu bertahan di tengah gempuran pandemi COVID-19 ini.[]