News

Bertahan Hidup di Negara Bangkrut, Warga Sri Lanka Kembali Masak Pakai Kayu Bakar

Tabung gas di Sri Lanka kini langka, terlalu mahal, dan rawan meledak karena proporsi propananya diganti demi mengurangi biaya.


Bertahan Hidup di Negara Bangkrut, Warga Sri Lanka Kembali Masak Pakai Kayu Bakar
Dengan meroketnya harga gas dan persediannya yang langka, warga Sri Lanka kini beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak. (AFP)

AKURAT.CO Dulu relatif kaya, Sri Lanka kini terbelit krisis ekonomi yang mengerikan. Segala sesuatu mulai lenyap dari pasaran, mulai dari obat-obatan hingga gas. Warga pun kembali memasak dengan kayu bakar.

Dilansir dari AFP, peralihan itu dimulai pada awal tahun ketika lebih dari 1.000 dapur meledak di seluruh negeri. Akibatnya, sedikitnya 7 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

Alasannya, pemasok ingin memotong biaya dengan meningkatkan proporsi propana. Akibatnya, tekanannya meningkat ke level yang berbahaya.

baca juga:

Namun, gas kini tak tersedia lagi atau terlalu mahal bagi kebanyakan penduduk. Sebagian beralih ke kompor minyak tanah, tetapi pemerintah tak memiliki dolar untuk mengimpornya bersama bensin dan solar yang juga kekurangan pasokan.

Sementara itu, mereka yang membeli kompor listrik hanya bisa mengelus dada ketika pemerintah memberlakukan pemadaman listrik yang lama. Alasannya sama, pemerintah kehabisan dolar untuk mengimpor BBM untuk generator.

Bertahan Hidup di Negara Bangkrut, Warga Sri Lanka Kembali Masak Pakai Kayu Bakar - Foto 1
AFP

Niluka Hapuarachchi menjadi salah satu korban ledakan tabung gas saat memasak makan siang pada suatu Minggu di bulan Agustus. Ajaibnya, wanita 41 tahun itu tak terluka.

"Untungnya, saat itu tak ada orang. Ada pecahan kaca di lantai. Kompor kaca meledak. Saya tak akan pernah menggunakan gas lagi untuk memasak. Tak aman. Kami sekarang menggunakan kayu bakar," tuturnya.

MG Karunawathi, seorang pemilik restoran di pinggir jalan, juga beralih ke kayu bakar. Ia mengeluh diharuskan memilih antara menutup usahanya atau bertahan dengan asap dan jelaga.

"Kami menderita (menghirup asap) saat memasak dengan kayu bakar, tapi kami tak punya pilihan. Mendapatkan kayu bakar juga sulit dan menjadi sangat mahal," keluh wanita 67 tahun itu.

Sri Lanka dulunya dalah negara berpenghasilan menengah. PDB per kepala sebanding dengan Filipina dan standar hidupnya membuat iri India, negara tetangganya.

Namun, akibat salah urus ekonomi dan industri pariwisata pentingnya dihantam Covid-19, negara ini kehabisan dolar yang dibutuhkan untuk membayar sebagian besar impor. Penderitaan ini pun diyakini akan berlanjut beberapa waktu ke depan, sebagaimana yang dikatakan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe di parlemen pada Selasa (5/7).

"Kita masih harus menghadapi kesulitan di tahun 2023. Inilah kebenarannya. Inilah kenyataannya," ucapnya.

Inflasi tak resmi ini kini berada di urutan kedua setelah Zimbabwe. PBB memperkirakan sekitar 80 persen orang melewatkan makan lantaran mereka tak mampu membeli makanan.

Sebelum krisis, hampir semua rumah tangga di Kolombo mampu menggunakan gas. Namun, kini penebang kayu bernama Selliah Raja kewalahan menangani bisnisnya.

"Sebelumnya, kami hanya punya satu pelanggan, sebuah restoran dengan oven kayu bakar. Namun, kini kami punya begitu banyak pelanggan, sampai-sampai tak mampu memenuhi permintaan," terangnya.

Menurut keterangannya, pemasok kayunya di provinsi-provinsi lainnya telah menaikkan harga 2 kali lipat karena permintaan meroket dan biaya transportasi melonjak.

"Sebelumnya, kami dibayar pemilik tanah untuk menebang pohon karet yang tak lagi produktif. Sekarang, kami harus membayar untuk mendapatkan pohon-pohonnya," ujar Sampath Suchhara, penebang pohon di desa selatan Nehinna.

Bertahan Hidup di Negara Bangkrut, Warga Sri Lanka Kembali Masak Pakai Kayu Bakar - Foto 2
AFP

Permintaan untuk energi alternatif juga melonjak, seperti yang dialami pengusaha bernama Riyad Ismail. Penjualan tungku kayu bakar berteknologi tinggi yang ia temukan pada 2008 meroket.

Pria 51 tahun itu memasang kipas listrik bertenaga baterai kecil untuk mengembuskan udara ke dalam tungku berbentuk tong guna memastikan pembakaran yang lebih baik. Dengan begitu, asap dan jelaga akibat pembakaran kayu bakar tradisional akan berkurang.

Produk papan atasnya 'Ezstove' dan produk pasaran massalnya 'Janalipa' menggunakan arang kelapa. Ia menjanjikan penghematan minimal 60 persen dibandingkan memasak dengan gas. Kedua kompornya, masing-masing berharga sekitar USD 20 (Rp299 ribu) dan USD 50 (Rp749 ribu), laris manis, bahkan para pembeli harus masuk daftar tunggu.

Bertahan Hidup di Negara Bangkrut, Warga Sri Lanka Kembali Masak Pakai Kayu Bakar - Foto 3
AFP

Saking suksesnya, ada beberapa tiruannya yang beredar di pasaran.

"Anda akan melihat banyak tiruan dari desain saya. Orang lain membonceng desainnya," pungkas Ismail sambil membuat satai ayam.[]