News

Bersikeras Berdalih Lalai, Terdakwa Sate Beracun di Bantul Minta Dihukum Lebih Ringan

Bersikeras Berdalih Lalai, Terdakwa Sate Beracun di Bantul Minta Dihukum Lebih Ringan


Bersikeras Berdalih Lalai, Terdakwa Sate Beracun di Bantul Minta Dihukum Lebih Ringan
NA didampingi tim Kuasa Hukum di Kejaksaan Negeri Bantul, Rabu (25/8/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, NA (25), terdakwa kasus sate beracun memohon kepada majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul menjatuhkan vonis lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang pembacaan nota pembelaan atau pleidoi di PN Bantul, Senin (29/11/2021).

Dalam pembelaannya, Tim Kuasa Hukum terdakwa meminta kliennya dihukum karena kealpaan atau kelalaiannya. Seperti diatur dalam Pasal 359 KUHP.

"Mengadili primer, satu, menyatakan terdakwa NA telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana karena kesalahannya, mengakibatkan meninggalnya orang lain, sebagaimana Pasal 359 KUHP," kata Anwar Ary Widodo selaku salah satu tim Penasihat Hukum Terdakwa di depan Hakim Ketua Aminuddin.

Penasihat hukum terdakwa juga meminta agar kliennya dihukum seringan-ringannya sesuai dengan Pasal 359 KUHP.

Berdasarkan fakta-fakta persidangan yang terungkap, menurut Tim Kuasa Hukum Terdakwa, perbuatan kliennya tak memenuhi unsur dakwaan primer yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana yang dituntutkan JPU kepada NA.

Kuasa Hukum terdakwa beranggapan bahwa kliennya masuk ke dalam kategori culpa atau kelalaian, bukan dolus eventualis. Karena kealpannya itulah perbuatan NA kemudian menewaskan Naba Faiz, bukan Y. Tomi Astanto, anggota Satreskrim Polresta Yogyakarta yang disebut jadi target NA sebenarnya.

Di sisi lain, kata Penasihat Hukum Terdakwa, kematian Naba tak terlepas dari faktor Bandiman, ayah korban yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol).

Bandiman, kata Penasihat Hukum Terdakwa, memilih membawa pulang sate kiriman NA. Padahal, lanjutnya, paket makanan itu oleh istri Tomi diminta untuk dikembalikan ke sosok pengirimnya, Minggu (25/4/2021) lalu.

"Seharusnya Pak bandiman itu tidak membawa pulang (paket sate). Karena sudah disampaikan dalam berita acara bahwa saudara Maria, istri Tomi kan sudah memerintahkan ke Pak Bandiman untuk dikembalikan, bukan untuk diberikan ke Pak Bandiman," urai Ary.

Sidang pembacaan replik dan duplik sementara diagendakan masing-masing pada 25 dan 29 November 2021 mendatang.

Sebelumnya, pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bantul, Senin (15/11/2021), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut NA, terdakwa kasus sate sianida dengan hukuman 18 tahun penjara karena dianggap telah memenuhi unsur dakwaan primer Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Menurut tim jaksa, NA dinilai sudah melakukan pembunuhan berencana dengan membeli sianida secara online untuk meracuni Tomi Astanto. []