News

Berlomba Selamatkan Dunia, AS Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca, China Target Bebas Karbon pada 2060

Dua kekuataan besar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China telah mengumumkan janjinya untuk menyelamatkan iklim dunia. 


Berlomba Selamatkan Dunia, AS Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca, China Target Bebas Karbon pada 2060
Kedua pemimpin, Xi Jinping dari China dan Joe Biden dari AS, sepakat mengeluarkan komitmen bersama untuk mengatasi krisis iklim. (Xinhua & AP)

AKURAT.CO, Dua kekuataan besar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China telah mengumumkan janjinya untuk menyelamatkan iklim dunia. 

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera hingga DW, janji tersebut disampaikan Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping untuk pembukaan acara dua hari KTT Perubahan Iklim pada Kamis (23/4).

Dalam kesempatan itu, Biden berbicara dari Gedung Putih dan berjanji akan memangkas setengah emisi gas rumah kaca negaranya pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2005.

Dalam pidatonya, Biden juga mengatakan bahwa tidak ada negara yang bisa menyelesaikan sendiri krisis perubahan iklim global. Karena itu, Biden ikut mendesak para pemimpin dunia lain yang hadir di KTT virtual, untuk bekerja sama demi menghindari konsekuensi terburuk dari krisis iklim. 

."Dampaknya terus meningkat. Amerika Serikat (AS) tidak bisa menunggu.

"Sains memberi tahu kita bahwa ini adalah dekade yang menentukan. Ini adalah dekade di mana kita harus membuat keputusan yang bisa menghindari konsekuensi terburuk dari krisis iklim. 

"Tidak ada negara yang dapat menyelesaikan krisis ini sendiri, dan KTT ini merupakan langkah menuju masa depan yang aman, sejahtera, dan berkelanjutan.

"Ke sanalah tujuan kita sebagai sebuah bangsa, dan itulah yang dapat kita lakukan jika kita mengambil tindakan untuk membangun ekonomi yang tidak hanya lebih makmur tetapi lebih sehat, adil, dan lebih bersih untuk seluruh planet.

"Langkah-langkah ini akan menetapkan ekonomi Amerika ke emisi nol-bersih paling lambat tahun 2050," ucap Biden sembari menunjukkan bahwa AS mewakili kurang dari 15 persen emisi dunia.

Tak mau kalah, Presiden Xi Jinping juga telah menyerukan visi ekonomi hijaunya untuk KTT Perubahan Iklim. Dalam pernyataannya, Xi pun kembali menegaskan misi untuk menjadikan negaranya netral karbon pada tahun 2060. 

Xi juga mengatakan komitmen untuk membuat negaranya mencapai puncak produksi karbon sebelum tahun 2030 dan mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap pada paruh kedua dekade ini.

"China akan meningkatkan kontribusi (untuk perjanjian Paris) dengan mengadopsi kebijakan dan tindakan yang lebih kuat," kata Xi seraya menekankan bahwa Beijing akan secara ketat mengontrol proyek pembangkit listrik tenaga batu bara dan membatasi peningkatan konsumsi batu bara pada lima tahun mendatang. 

Para pencinta lingkungan telah menyuarakan kekhawatiran atas lambatnya China dalam menghentikan penggunaan batu bara yang merupakan bentuk energi paling kotor tetapi sensitif secara politik karena pekerjaan pertambangan.

Meskipun dalam hal ini, China telah memimpin dunia dalam penyebaran teknologi energi bersih. China telah meluncurkan sejumlah inisiatif, seperti infrastruktur dan transportasi hijau serta keuangan sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road.

Namun, untuk mencapai emisi nol-bersih dalam waktu kurang dari 30 tahun, China harus benar-benar meningkatkan dan menyempurnakan upayanya. Kemudian, pada gilirannya, hal itu akan memungkinkan negara lain untuk menetapkan tujuan iklim yang lebih ambisius.

Tidak ada solusi global untuk perubahan iklim yang mungkin terjadi tanpa AS dan China, karena dua ekonomi teratas dunia itu bersama-sama menyumbang hampir setengah dari total emisi gas rumah kaca dunia.

Seperti diketahui, AS sendiri juga tercatat telah mencemari atmosfer dengan karbon dioksida lebih banyak daripada negara lainnya. Saat ini, warganya juga memiliki jejak karbon tertinggi di dunia.

Meskipun target 50 persen dari Biden tidak mengikat, tetapi hal itu tetap meningkatkan komitmen AS untuk mengurangi emisi sekitar sepertiganya. Sama seperti China, komitmen ini pada akhirnya juga bisa memacu pemerintah lain untuk menghentikan pembakaran bahan bakar fosil lebih cepat. 

Washington dan Beijing sebelumnya kerap berselisih tentang banyak hal, termasuk soal kebijakan China di Hong Kong, pandemi COVID-19, hingga masalah Uighur.

Tak heran jika kemudian komitmen dua raksasa dunia itu pada perubahan iklim sangat disambut baik oleh dunia. Terlebih, beberapa hari sebelum KTT, kedua negara sempat mengeluarkan pernyataan bersama di mana mereka berjanji untuk bekerja sama untuk mengatasi krisis iklim.

Sebanyak 40 pemimpin dunia yang menghadiri KTT dua hari ini bertanggung jawab atas 80 persen emisi gas rumah kaca tahunan yang memanaskan planet dan mendatangkan banyak bencana.

Para pemimpin dunia dari negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim juga hadir, seperti Republik Demokratik Kongo, Jamaika, dan Bangladesh.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu