Rahmah

Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Bolehkah?

Dalam satu pendapat, berkurban untuk orang yang sudah meninggal tetap bisa. Sebab, bentuk ibadah kurban adalah sedekah.


Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Bolehkah?
Ilustrasi orang berkurban ( Syira.tv)

AKURAT.CO Menyembelih hewan kurban pada hari raya Idul Adha sangat dianjurkan bagi umat muslim. Rasulullah SAW sudah banyak menjelaskan dalam hadis-hadis tentang keutamaan berkurban ini.

Sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua, ada saja anak yang berkeinginan berkurban untuk orang tuanya yang sudah meninggal. Lalu, bolehkan berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia?

Dilansir NU Online, mengacu pada pendapat Imam Nawawi dalam Minhaj ath-Thalibin, berkurban untuk orang yang sudah meninggal tidak bisa kecuali si mayit pernah berwasiat semasa hidupnya agar ketika sudah wafat disembelihkan hewan kurban atas nama dirinya.

baca juga:

وَلَا تَضْحِيَةَ عَنْ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا

Artinya, “Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seijinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani.”

Hanya, dalam pendapat lain yang dikemukakan oleh Syekh Abul Hasan al-Abbadi, berkurban untuk orang yang sudah meninggal tetap bisa. Sebab, bentuk ibadah kurban adalah sedekah, sementara sedekah bisa dilakukan atas nama orang yang sudah meninggal dan pahalanya bisa tersampaikan.

Dikemukakan Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (8/406),

لَوْ ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ بِغَيْرِإذْنِهِ لَمْ يَقَعْ عَنْهُ (وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

Artinya, “Seandainya seseorang berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya maka tidak bisa. Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama.”

Dalam kalangan ulama mazhab Syafii sendiri, pendapat yang pertama dinilai sebagai pandangan yang lebih sahih dan diikuti oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab syafi’i. Meski pandangan yang kedua tidak menjadi pandangan mayoritas ulama mazhab syafi’i, tapi pandangan ini didukung oleh mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Dijelaskan dalam Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah (5/106-107),

Sumber: NU Online