Lifestyle

Berikut Persentase Dialek Bahasa Sunda yang Dituturkan di DKI Jakarta

Arteria Dahlan menyinggung Jaksa Agung agar memecat Kajati yang berbahasa Sunda dalam Raker DPR RI


Berikut Persentase Dialek Bahasa Sunda yang Dituturkan di DKI Jakarta
Armada bus TransJakarta melintasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, di Jakarta, Selasa (7/12/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Ucapan Arteria Dahlan yang menyentil Jaksa Agung agar memecat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbahasa Sunda dalam Raker Komisi III DPR RI, berbuntut panjang. Arteria akhirnya dilaporkan Majelis Adat Sunda ke Polda Jawa Barat, Kamis (20/1/2022).

Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein, selaku pelapor bersama perwakilan adat Minang dan sejumlah komunitas adat kesundaan ke Polda Jabar.

Adapun pelapor membuat laporan ke SPKT Polda Jabar dan pelaporan ini masih harus berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jabar.

baca juga:

"Jadi, kami hari ini melaporkan saudara Arteria Dahlan, anggota DPR RI yang telah menyatakan dalam berita yang viral di Youtube dan media sosial meminta mencopot kepala kejaksaan tinggi yang berbicara dalam rapat menggunakan bahasa Sunda," ujar Ari di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Kamis (20/1).

Ari menyatakan, ucapan Arteria yang meminta Jaksa Agung agar memecat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbahasa Sunda dalam rapat di Gedung DPR sudah menyakiti perasaan masyarakat Sunda.

"Ini menyakiti perasaan orang Sunda. Saudara-saudara kita dari daerah lain juga merasa tersinggung,” katanya.

Menurut Ari, ucapan tersebut selain tidak pantas juga bisa merembet kepada suku lain di Indonesia.

“Hari ini mungkin nasib jeleknya lagi menimpa orang Sunda diperlukan seperti itu. Tidak menutup kemungkinan di kemudian hari suku bangsa lain bakal diperlakukan hal yang sama," sambungnya.

Arteri Dahlan pun telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Jawa Barat, berkenaan dengan kontroversi tersebut.

"Saya dengan sungguh-sungguh menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda atas pernyataan saya beberapa waktu lalu,” ujar Arteria usai memberikan klarifikasi kepada DPP PDIP di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Klarifikasi dan permintaan maaf Arteria disampaikannya saat diterima oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dan Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun.

"Saya menyerahkan sepenuhnya kepada DPP Partai. Sebagai Kader Partai saya siap menerima sanksi yang diberikan Partai. Saya belajar dari persoalan ini, dan terima kasih atas seluruh kritik yang diberikan ke saya, pastinya akan menjadi masukan bagi saya untuk berbuat lebih baik lagi,” kata Arteria dengan nada penyesalan.

"Saya sendiri akan lebih fokus didalam memerjuangkan keadilan bagi masyarakat, khususnya di dalam memerangi mafia narkoba, mafia tanah, mafia tambang, mafia pupuk, mafia pelabuhan/bandara/laut, mafia pangan dan BBM, dan berbagai upaya penegakkan hukum lainnya. Saya akan lebih bekerja secara silent tetapi mencapai sasaran penegakan hukum. Sekali lagi terima kasih atas semua kritik dan masukan yang diberikan kepada saya,” ujar Arteria sambil mengakhiri pernyataan permintaan maafnya.

Bahasa Sunda tidak hanya dituturkan oleh masyarakat yang berada di Jawa Barat, seperti yang Arteria pikirkan. Selain di Jawa Barat, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri yang dilakukan Peta Bahasa Kemdikbud, bahasa Sunda di Provinsi Jawa Barat dengan bahasa Sunda yang tersebar di Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara, seluruhnya memiliki persentase perbedaan berkisar 51% - 80%, sehingga bisa dikatakan beda dialek. 

Bahasa Sunda di Jawa Barat dengan bahasa Sunda di Provinsi DKI Jakarta memiliki persentase perbedaan 51,25%; dengan Banten 60%; dengan Jawa Tengah 56,50%; dengan Lampung 50,50%; dengan Bengkulu 71%; dan dengan Sulawesi Tenggara 64,5%.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri juga, bahasa Sunda di wilayah Jawa Barat terbagi ke dalam dua dialek, yaitu dialek [h] dan (2) dialek non-[h]. Persentase perbedaan antara kedua dialek yakni 60%.

Dialek dituturkan hampir di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat (kecuali wilayah pesisir utara), antara lain Majalengka, Bogor, Tasikmalaya, Kuningan, Bekasi, Garut, Ciamis, Sukabumi, Subang, Purwakarta, Sumedang, Cianjur, Karawang, Bandung, Bandung Barat,  dan Cirebon. 

Dialek ini merupakan dialek standar karena digunakan di pusat kekuasaan yakni Bandung dengan  sebaran geografisnya luas, jumlah penuturnya lebih besar, serta digunakan dalam media massa cetak dan elektronik daerah Jawa Barat. 

Dialek ini terdapat realisasi bunyi [h] di segala posisi, sebagaimana bahasa Sunda baku pada umumnya. 

Berbeda halnya dengan dialek non-[h] yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Pareangirang,Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, dialek ini tidak merealisasikan bunyi [h] di segala posisi.

Bunyi [h] dalam dialek [h] bervariasi dengan bunyi [Ø] didalam dialek non-[h], misalnya hejo menjadi ejo’ (hijau); saha menjadi sa’a (siapa); dan labuh menjadi labu’(jatuh).

Variasi bunyi [h] dengan bunyi [Ø] di segala posisi ini, disebabkan oleh letak desa yang menggunakan bahasa Sunda tetapi tinggal di wilayah bahasa Jawa.[]