Ekonomi

Beridiri Secara Kontroversi Di Palestina, Hingga Dibantu AS Ini 5 Penyebab Israel Jadi Negara Kaya di Dunia

Berdiri secara kontroversial di Palestina berikut ini ketahuilah fakta mengapa Israel bisa menjadi negara kaya di timur tengah


Beridiri Secara Kontroversi Di Palestina, Hingga Dibantu AS Ini 5 Penyebab Israel Jadi Negara Kaya di Dunia

AKURAT.CO  Hingga saat ini serangan Israel semakin meningkat di Jalur Gaza paska serangan di Masjid al aqsa.

Tercatat pada Kamis (13/5/2021),  setidaknya 53 orang meninggal dunia, termasuk 14 anak-anak dan lebih dari 300 lainnya terluka imbas serangan yang dilakukan Israel pada Palestina.

Disisi lain, tentara Israel mengatakan sekitar 1.500 roket telah ditembakkan dari Gaza ke berbagai lokasi di Israel, menewaskan sedikitnya enam orang.

Mengenai ekalasi yang terjadi kedua negara, seperti diketahui kekuataan militer Israel yang menggempur Palestina karena kekuataan ekonomi negara tersebut.

Meski berdiri secara kontroversial di tanah Palestina pada 14 Mei 1948, namun Israel berkembang menjadi salah satu kekuataan ekonomi di Timur Tengah.

Faktanya kekuatan ekonomi Isrel memang begitu masif daripada negara timur tengah lain berkat beberapa faktor. Untuk itu berikut ini ketahuilah fakta mengapa Israel bisa menjadi negara kaya di timur tengah yang dilansir dari berbagai sumber.

1. Sempat Jadi Seperti Zimbawe Kini Israel Jadi Silicon Valley Timur Tengah

Banyak negera barat menyebut Israel sebagai silicon valley di Timur Tengah, namun pada tahun 1984, kisah Israel jauh lebih mirip dengan Zimbabwe modern. Tahun itu, tingkat inflasi rata-rata 450 persen, dan  mencapai titik tertinggi  sekitar 950 persen.

Ada  beberapa penyebab Israel pernah mirip Zimbabwe. Dimulai dengan kebutuhan anggaran militer besar-besaran setelah perang Yom Kippur 1973, Israel mulai kewalahan mengatur anggaran mereka. Pemerintah menghabiskan tiga perempat ekonomi untuk membangun sektor publik dan meninggalkan defisit anggaran yang sangat besar.

Kemudian dalam mengatasi defisit anggaran pemerintah meminta Bank of Israel mencetak uang yang membuat situasi semakin memburuk.

Setelah beberapa tahun kemudian dalam mengatasi inflasi Israel memutuskan untuk mengunrangi belanja pemerintah , mendevaluasi mata uang secara besar-besaran, dan memutuskan hubungan antara upah dan harga. Israel juga menetapkan aturan baru untuk bank sentral yang lebih independen.

2. Bantuan besar dari AS.

Negara Israel tak berdiri sendiri namun ada campur tangan dari Amerika Serikat bisa berdirinya negara tersebut.

Sejak tahun 1960-an Amerika Serikat telah menjadi pendukung Israel yang sangat kuat. 

Sejak 1985, Amerika Serikat telah memberikan hampir US$ 3 miliar dalam bentuk hibah setiap tahun ke Israel, dengan Israel menjadi penerima bantuan Amerika tahunan terbesar dari 1976 hingga 2004 dan penerima bantuan kumulatif terbesar sebesar US$146 miliar. 74 persen dari dana ini harus digunakan untuk membeli barang dan jasa AS. 

Pada tahun fiskal 2019, AS memberikan US$3,8 miliar bantuan militer asing ke Israel. Israel juga mendapat manfaat dari sekitar US$8 miliar jaminan pinjaman. Hampir semua bantuan AS kepada Israel kini dalam bentuk bantuan militer, padahal dulu bantuan ekonomi juga cukup besar.

Selain bantuan keuangan dan militer, Amerika Serikat juga memberikan dukungan politik kepada Israel, yang telah menggunakan hak veto Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebanyak 42 kali sehubungan dengan resolusi yang berkaitan dengan Israel, dari total 83 kali hak vetonya. Antara 1991 dan 2011, 15 veto digunakan untuk melindungi Israel dari total 24 veto.

3. Eropa punya andil besar juga Israel bisa berdiiri

Selain AS sebagai pemberi bantuan utama, Jerman juga memainkan peran utama dalam meningkatkan kekayaan Israel. Israel adalah negara berkembang yang miskin pada 1950-an. Negara pertama yang memberikan bantuan kepada Israel adalah Prancis. Hingga 1967, Prancis memberi Israel bantuan militer hingga teknologi. Namun setelah perang 1967, Prancis menarik bantuan dan dukungan mereka dan sebaliknya AS turun tangan dengan memberikan bantuan besar.

Namun, sementara Prancis secara terbuka memberikan bantuan militer kepada Israel, Jerman Barat membayar biaya  reparasi atau ganti rugi akibat kejadian holacoust atau genosida orang yahudi.

 Ini tidak disambut dengan  positif karena ekonomi Jerman Barat juga mengalami kehancuran yang signifikan setelah perang dunia 2. Kesepakatan ini ditandatangani pada tahun 1951 dan berfungsi sebagai modal utama Israel untuk memulai proyek mereka. Dengan lebih banyak sumber daya ekonomi, Israel mulai melakukan industrialisasi dan modernisasi dengan cepat. Total aset senilai US$61,5 miliar dolar telah diberikan kepada Israel oleh Jerman sejak 1951.

4. Jadi Silicon Valley timur tengah

Berbagai dukungan negara barat dari biaya hingga teknologi membuat Israel jadi surga bagi para perusahaan startup dan teknologi.

Israel menempati peringkat ke-35 pada indeks kemudahan berbisnis dari Bank Dunia. Israel memiliki jumlah perusahaan startup terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dan jumlah terbesar ketiga dari perusahaan yang terdaftar di NASDAQ setelah AS dan China. 

 Perusahaan Amerika seperti Intel, Microsoft, dan Apple membangun fasilitas penelitian dan pengembangan luar negeri pertama mereka di Israel, dan perusahaan multinasional berteknologi tinggi lainnya, seperti IBM, Google, HP, Cisco Systems, Facebook dan Motorola telah membuka R&D pusat di negara tersebut. 

Sektor ekonomi utama negara adalah teknologi dan industri manufaktur; industri berlian Israel adalah salah satu pusat pemotongan dan pemolesan berlian di dunia, yang mencapai 23,2% dari semua ekspor dunia.

 Relatif miskin dalam sumber daya alam, Israel bergantung pada impor minyak bumi, bahan mentah, gandum, kendaraan bermotor, berlian yang belum dipotong, dan input produksi. 

Dinamika ekonomi Israel telah menarik perhatian para pemimpin bisnis internasional seperti pendiri Microsoft Bill Gates, investor Warren Buffett, pengembang real estate dan mantan Presiden AS Donald Trump serta raksasa telekomunikasi Carlos Slim.  Pada tahun 2006, perusahaan induk investor Amerika Warren Buffett Berkshire Hathaway membeli sebuah perusahaan Israel, ISCAR Metalworking, akuisisi pertamanya di luar Amerika Serikat, seharga US$4 miliar. 

5. Menerima Imigran super pintar dari negara lain

Ekonomi Israel mulai sehat ketika pemerintah mulai mempraktikkan ekonomi kapitalis.

Ketika Uni Soviet mulai runtuh, kebijakan imigrasi Amerika mencegah sejumlah besar orang Yahudi Rusia datang ke Amerika Serikat. 

Sebaliknya, mereka memilih Israel. Antara 1990 dan 1997, lebih dari 710.000 imigran Soviet mendarat di negara itu, meningkatkan populasi usia kerja sebesar 15 persen. 

Sekitar 60 persen pendatang baru mengenyam pendidikan perguruan tinggi, dibandingkan 30 hingga 40 persen penduduk asli. Karena imgran tersebut memiliki kualitas tinggi maka dengan cepat mendorong angakatan kerja berkalitas dan terbukanya lapangan pekerjaan.[]

Denny Iswanto

https://akurat.co