News

Beri Sinyal Perdamaian, Korea Utara Mau Pertimbangkan KTT dengan Korea Selatan

Kim Yo-jong, adik sekaligus tangan kanan Kim Jong-un, mendesak Amerika Serikat dan Korea Selatan untuk meninggalkan kebijakan bermusuhan dan standar ganda.


Beri Sinyal Perdamaian, Korea Utara Mau Pertimbangkan KTT dengan Korea Selatan
Bendera Korea Utara berkibar di Jenewa pada 2 Oktober 2014. (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO Korea Utara bersedia mempertimbangkan KTT antar-Korea asalkan ada rasa saling menghormati antara kedua negara tersebut, menurut pernyataan Kim Yo-jong pada Sabtu (25/9).

Dilansir dari Reuters, sehari sebelumnya, adik Kim Jong-un itu mendesak Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan untuk meninggalkan kebijakan bermusuhan dan standar ganda. Dengan begitu, perundingan formal dapat digelar untuk mengakhiri Perang Korea 1950-1953.

Perang Korea sendiri berakhir dengan gencatan senjata, alih-alih perjanjian damai. Akibatnya, pasukan PBB yang dipimpin AS secara teknis masih berperang dengan Korea Utara. Niat untuk mengakhiri perang secara resmi pun diperumit dengan ambisi senjata nuklir Korea Utara.

"Menurut saya, ketika ketidakberpihakan dan sikap saling menghormati dapat dipertahankan, akan ada kesepahaman yang lancar antara utara dan selatan," ucap Kim Yo-jong.

Menurut Kim, diskusi konstruktif menawarkan kesempatan untuk solusi yang bermakna dan sukses untuk masalah termasuk pembentukan kembali kantor penghubung bersama utara-selatan dan KTT utara-selatan.

Sementara itu, saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa (21/9), Presiden Korea Selatan kembali menyerukan diakhirinya perang secara resmi. Namun, ia pesimis bakal ada kemajuan seperti itu sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei.

Korea Utara sendiri selama beberapa dekade telah berusaha untuk mengakhiri perang. Namun, AS enggan menyetujuinya, kecuali Korea Utara menyerahkan senjata nuklirnya.

Kim Yo-jong yang jadi tangan kanan kakaknya itu mengaku ia sangat memperhatikan diskusi yang intens di Selatan soal prospek baru deklarasi resmi berakhirnya Perang Korea.

"Saya merasakan kuatnya antusiasme publik Korea Selatan dalam memulihkan hubungan antar-Korea dari kebuntuan dan mencapai stabilitas damai sesegera mungkin. Kami juga punya keinginan yang sama," imbuhnya.

Harapan tentang deklarasi untuk mengakhiri perang muncul selama KTT bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Kim Jong-un dari Korea Utara di Singapura pada 2018. Namun, kemungkinan itu dan momentum yang dihasilkan kedua pemimpin tersebut setelah 3 pertemuan kembali menemui jalan buntu. Perundingan terhenti sejak 2019.

Menurut Presiden AS Joe Biden dalam pidatonya di PBB, ia ingin diplomasi berkelanjutan untuk menyelesaikan krisis seputar program nuklir dan rudal Korea Selatan.[]