News

Berharap Bisa Dikembalikan ke Negeri Asal, Bangladesh Terapkan Kurikulum Myanmar untuk Anak-anak Pengungsi Rohingya

Berharap Bisa Dikembalikan ke Negeri Asal, Bangladesh Terapkan Kurikulum Myanmar untuk Anak-anak Pengungsi Rohingya


Berharap Bisa Dikembalikan ke Negeri Asal, Bangladesh Terapkan Kurikulum Myanmar untuk Anak-anak Pengungsi Rohingya
Pemerintah Bangladesh dan PBB akan memulai program pendidikan formal menggunakan kurikulum Myanmar untuk anak-anak Rohingya di kamp-kamp pengungsi di Cox's Bazar. (AFP via Arab News)

AKURAT.CO, Pihak berwenang Bangladesh dan PBB sedang bersiap memperkenalkan pendidikan formal untuk ratusan ribu anak-anak Rohingya yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Cox's Bazar. Dilaporkan, pendidikan untuk anak-anak tersebut nantinya akan mencakup kurikulum Myanmar.

Regina de la Portilla, juru bicara badan pengungsi PBB di Cox's Bazar, baru-baru ini mengatakan kepada Arab News bahwa persiapan telah selesai dan kurikulum Myanmar mulai bisa diperkenalkan untuk anak-anak Rohingya. 

"Kurikulum Myanmar akan diperkenalkan di pusat-pusat pembelajaran, sesuai permintaan pemerintah Bangladesh, dengan tujuan agar anak-anak dapat memulai kembali pendidikan ketika mereka sudah dewasa, dan dapat dengan aman dan sukarela kembali ke negara asalnya. Persiapan telah selesai untuk meluncurkan rencana tersebut," katanya.

Rohingya adalah kelompok etnis dan agama minoritas yang telah melarikan diri dari Myanmar karena persekusi militer di negara bagian Rakhine utara pada tahun 2017. Cox's Bazar, yang menjadi pelabuhan perikanan nelayan di tenggara Bangladesh, menjadi salah satu pemukiman pengungsi terbesar di dunia, dan tempat tujuan bagi para pengungsi Rohingya.

Di sana, lebih dari 1,1 juta Muslim Rohingya menetap, dengan setengah populasi diisi oleh anak-anak. Untuk memfasilitasi pendidikan bagi ribuan anak-anak ini, PBB dan mitra bantuan telah bekerja sama mendirikan pusat-pusat pembelajaran informal. Setidaknya ada 6.250 pusat yang  berhasil dijalankan di 34 kamp di Cox's Bazar, yang memberikan pendidikan dasar kepada lebih dari 354 ribu siswa. 

Kemudian pada Januari 2020, pemerintah Bangladesh dan PBB mulai setuju bahwa anak-anak Rohingya harus diberikan pendidikan formal di mana kurikulum Myanmar ada di dalamnya. Mereka sepakat bahwa kurikulum Myanmar harus diterapkan demi mempersiapkan anak-anak untuk kembali ke negara asal di masa depan. Program percontohan pendidikan pun sekarang bisa diluncurkan setelah sebelumnya terhenti karena pandemi virus corona. Program ini datang menyusul dibukanya kembali sekolah-sekolah Bangladesh bulan lalu.

Kementerian luar negeri mengharapkan program itu akan diluncurkan segera setelah persiapan akhir sedang berlangsung. 

"Kami sedang mengerjakannya dan saat ini sibuk dengan persiapan di menit-menit terakhir. Kami berharap untuk meluncurkan kurikulum dalam waktu dekat.

"Kami telah melakukan beberapa pengamatan dalam kurikulum untuk memasukkan budaya Myanmar. Tujuan kami adalah mempersiapkan mereka untuk berintegrasi dengan masyarakat Myanmar setelah mereka dipulangkan," kata seorang pejabat kementerian, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada Arab News.

BRAC, organisasi pembangunan terbesar yang berbasis di Bangladesh, juga sedang bersiap untuk membantu melancarkan program ini. BRAC yang menjalankan pusat pembelajaran untuk 65 ribu anak-anak Rohingya di Cox's Bazar, berencana untuk mengajar dalam bahasa utama Myanmar, Burma.

"Guru di pusat pembelajaran kami telah menerima pelatihan dasar tetapi belum dilatih untuk kurikulum baru. Saat ini, kami mengikuti kerangka dan pendekatan kompetensi pembelajaran, pedoman yang disetujui pemerintah untuk sistem pendidikan informal. Secara bertahap, kerangka tersebut akan disesuaikan dengan kurikulum Myanmar," kata Khan Mohammed Ferdous, kepala program pendidikan BRAC di Cox's Bazar.

Para orang tua Rohingya di Cox's Bazar sudah lama menunggu pengenalan kurikulum baru, yang akan membantu mempersiapkan mereka untuk pemulangan di masa depan. Karenanya, program pendidikan yang akan segera diluncurkan akhirnya disambut positif oleh para orang tua.

Fatema Begum, 35 tahun, adalah salah satunya. Ia mengaku sempat begitu khawatir karena keempat anaknya tidak bisa memperoleh pendidikan formal di kamp. Kini, ia merasa senang karena pendidikan formal dan pengenalan kurikulum Myanmar akan diberikan untuk anak-anak di kamp.

"Pengenalan kurikulum Myanmar di kamp-kamp adalah berita yang menginspirasi bagi saya karena anak-anak saya akan memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang tanah air mereka. Mereka akan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi," katanya.

Abdur Rahim, 41 tahun, ayah tiga anak, juga berharap masa depan anak-anaknya akan menjadi lebih baik.

"Anak laki-laki dan perempuan di kamp Rohingya tidak memiliki kegiatan lain kecuali berkeliaran. Ketika kurikulum Myanmar diluncurkan, mereka akan bisa mengenyam pendidikan berkualitas, yang akan membantu mereka mengejar karier yang lebih baik di Myanmar," ucap Rahim ikut memberi dukungan.

Namun, Prof Amena Mohsin dari departemen hubungan internasional Universitas Dhaka memiliki sedikit pendapat berbeda. Ia menggambarkan langkah tersebut justru menjadi 'pesan' kepada dunia bahwa pengungsi Rohingya adalah warga negara Myanmar yang memiliki kesempatan terbatas di Bangladesh.

"Tidak ada gunanya mengajar anak-anak pengungsi dengan kurikulum Bangladesh karena mereka tidak diizinkan untuk terlibat dalam pekerjaan formal apa pun di Bangladesh. Kurikulum Myanmar akan membantu mereka mempersiapkan mata pencaharian ketika mereka kembali ke Myanmar," kata Mohsin. []