Ekonomi

Berdayakan Perempuan Pengusaha Pasca Pandemi, Womenpreneur Harus Sadar Digital

Lantas, apa yang mampu ditawarkan oleh digital bagi para womenpreneur Indonesia?


Berdayakan Perempuan Pengusaha Pasca Pandemi, Womenpreneur Harus Sadar Digital
Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo (SCREEN SHOOT)

AKURAT.CO UMKM adalah salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Bank Indonesia juga menyebutkan bahwa sebanyak 87.5% UMKM terdampak pandemi Covid-19 dan dari jumlah tersebut ternyata 93.2% di antaranya terdampak negatif di sisi penjualan. Padahal, mayoritas komposisi sektor UMKM adalah perempuan. Sementara itu, di sisi lain terdapat pelaku bisnis atau UMKM yang mampu menyelamatkan usaha dari penurunan ekonomi lewat digitalisasi. Lantas, apa yang mampu ditawarkan oleh digital bagi para womenpreneur Indonesia?

Dalam acara webinar yang diadakan oleh HerStoy bertajuk Indonesian Womenpreneurs: Rising Through Business Digitalization in the Post-Pandemic Era, Pemimpin Redaksi HerStory.co.id, Clara Aprilia Sukandar menjelaskan soal gambaran dan data tentang kondisi womenpreneur di Indonesia. 

“Menurut penelitian dari The Sasakawa Foundation sepanjang November 2016 hingga Maret 2017 di lingkup Asia Tenggara, persentase womenpreneur di Indonesia terbilang tinggi, yakni sebesar 21% atau sejumlah 16,6 juta, bahkan jumlah ini adalah yang tertinggi jika tidak dihitung dari jumlah penduduknya. Namun, dari jumlah persentase yang besar itu, rupanya di Indonesia lebih dari setengahnya merupakan pemilik usaha informal kecil yang notabene-nya dikerjakan sendiri sebagai owner, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa womenpreneur di Indonesia adalah perempuan-perempuan pemilik usaha kecil informal, yang artinya berbagai usaha yang tidak terdaftar dan tidak berpajak,” terang Clara Aprilia Sukandar pada Selasa (25/6/2022).

baca juga:

Dalam kesempatan yang sama, Angela Tanoesoedibjo selaku Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mengatakan bahwa sejak pandemi Covid-19, penggunaan teknologi semakin meningkat di tengah masyarakat. Hal tersebut dikarenakan adanya pembatasan fisik yang ada pada saat puncak pandemi. Untuk itu, para womenpreneur harus sadar bahwa pengaruh digitalisasi tidak bisa diabaikan, apalagi populasi Indonesia saat ini di atas 50% adalah generasi milenial dan generasi Z yang fasih dengan penggunaan teknologi.

“Jadi, ke depannya nanti teknologi akan menjadi bagian yang sangat penting jika womenpreneur ingin mengembangkan usahanya. Bank Indonesia juga menunjukkan transaksi nilai dagang elektronik pada tahun 2021 meningkat 50.8% dibandingkan tahun 2020. Begitu pula data untuk digital banking dan transaksi uang elektronik, kedua hal itu juga akan meningkat seiring dengan dorongan dari pandemi yang mempercepat perubahan perilaku masyarakat menjadi serba digital,” tutur Angela Tanoesoedibjo.

Destry Anna Sari, Asisten Deputi Konsultasi Bisnis dan Pendampingan Kementerian Koperasi dan UMKM yang turut hadir dalam Webinar HerStory memaparkan soal kondisi pelaku usaha di Indonesia. Tidak semua usaha bisa berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Kebanyakan usaha mikro stagnan, bisnis hanya sebagai ‘pelarian’ karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Usaha mikro dan kecil yang meelayani masyarakat lokal akan tumbuh dengan sendirinya jika upah dan konsumsi meningkat.

“Jika kita bicara soal entrepreneurship, itu sulit dan bukan untuk semua orang. Jadi, memang tidak semuanya dan kebanyakan usaha mikro ini stagnan karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kebanyakan menjadi usaha mikro. Pemerintah berharap ketika semakin banyak usaha kecil dan menengah diharapkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat mengurangi jumlah usaha mikro,” kata Destry Anna Sari.

“Negara berkembang tidak mungkin hanya mengandalkan spesialisasi atau economic of scale karena tidak mungkin tumbuh kalau menghasilkan sesuatu yang sama. Dibutuhkan pergeseran usaha berbasis riset, teknologi, dan inovasi. Dibutuhkan juga transformasi wirausaha dari berbasis keterampilan dan produksi menjadi berbasis riset, teknologi, dan inovasi,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan beberapa prasyarat dasar untuk ekonomi digital yang diperlukan oleh perempuan. Pertama, pemerataan infrastruktur digital, sehingga memudahkan akses jasa keuangan dalam ekonomi digital bagi perempuan. Kedua, literasi digital, sehingga perempuan mampu memanfaatkan teknologi digital dengan baik. Ketiga, pelatihan dan pengembangan keterampilan perempuan dalam kewirausahaan.