Aji Nurmansyah

Penulis adalah peneliti di Arus Survey Indonesia (ASI)
News

Berburu Elektabilitas Menjaring Capres Potensial

Data sejumlah lembaga survei yang mengindikasikan bahwa belum ada tokoh mendominasi tingkat keterpilihan untuk menjadi Capres potensial di 2024


Berburu Elektabilitas Menjaring Capres Potensial
Ilustrasi Pemilu (AKURAT.CO/Lukman Hakim Naba)

AKURAT.CO Pesta demokrasi lima tahunan, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 masih sekitar tiga tahun lagi. Namun sejumlah tokoh politik, mulai pejabat daerah sekelas Gubernur, Menteri hingga Anggota DPR RI. Jauh hari sudah ramai berburu elektabilitas.

Pilpres memang masih lama. Namun sejumlah persiapan untuk menduduki kursi orang nomor satu di negeri ini, mulai dilakukan sedini mungkin. Pasalnya peluang itu terbuka lebar. Sebab sesuai amanat konstitusi Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak mungkin naik tahta setelah dua periode berkuasa.

Data sejumlah lembaga survei yang mengindikasikan bahwa belum ada tokoh mendominasi tingkat keterpilihan untuk menjadi Calon Presiden (Capres) potensial di tahun 2024 mendatang. Elektabilitas tokoh yang terjaring survei hanya memiliki tingkat keterpilihan di bawah 20 persen.

Data Arus Survei Indonesia (ASI) misalnya, menyebutkan belum ada tokoh yang dominan untuk menjadi Capres di tahun 2024 mendatang. Dimana urutan teratas masih ditempati rival Jokowi dalam Pilpres 2019 lalu. 

Prabowo Subianto dengan elektabilitas 12,5 persen, disusul Ganjar Pranowo 11,3 persen, Anies Baswedan 9.3 persen, Sandiaga Salahudin Uno 8,3 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono 6,4 persen, disusul Ridwan Kamil 5,4 perse  dan sejumlah nama lainnya dengan elektabilitas di bawah 5 persen. Dengan tingkat popularitas yang masih di bawah 20 persen. Sederet nama-nama beken di atas. Bisa saja disalip tokoh papan bawah. Asal mampu memanfaatkan peluang dinamika politik yang masih sangat dinamis. ditambah dengan waktu yang cukup panjang.

 Peluang Capres Potensial

Peluang untuk meningkatkan elektabilitas bagi tokoh tertentu sepertipengusaha, politisi, Kepala Daerah, mantan Jenderal hingga tokoh publik tak terkecuali. Masih terbuka lebar dalam rentang waktu tiga tahun ke depan. 

Kesempatan ini,  hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pihak yang berambisi  untuk mempercantik diri dan prestasi. Sebab masyarakat akan melihat tokoh mana yang bekerja dengan hati dan prestasi.

Sejumlah tokoh politik, ramai-ramai mengadu peruntungan berburu elektabilitas. Mulai tokoh-tokoh partai politik, Menteri, Gubernur hingga Anggota DPR RI.

Ada yang berterang menyatakan diri siap maju, kendatipun, sebagian tokoh tampak malu-malu tapi mau. Bahkan sesama tokoh di partai tertentu yang bersaing ketat tingkat elektabilitasnya mulai saling sindir.

Belum ada tokoh yang dominan elektabilitasnya menuju kursi pilpres 2024. Tentu membuka kesempatan bagi banyak pihak untuk meningkatkan popularitas dan berlomba menonjolkan prestasi. 

Lobi-lobi politik terus dibangun, baik antar sesama partai politik maupun antar tokoh terkait. Untuk menyamakan persepsi dan sekaligus menguji gagasan pihak lawan.

Pasalnya meningkatkan popularitas tentu tidak mudah. Demi mendapatkan gambaran komplit tentang bagaimana merancang gagasan dan strategi politiknya. 

Para tokoh yang dijagokan lembaga survei tentu harus menyelami jiwa pemilih. Melihat dimanakah peluang mencitrakan diri untuk meraup simpati masyarakat. Sedikit saja salah memposisikan diri popularitasnya akan terjungkal.

Hindari Pencitraan Kebablasan

Strategi pencitraan meski sudah tidak ampuh, namun masih diperlukan. Kultur masyarakat Indonesia mudah berempati melihat kesederhanaan seorang tokoh. Masih menjadi magnet untuk mendulang suara.

Figur yang merakyat dan apa adanya, tentu akan lebih mudah diterima masyarakat. Ketimbang figur priyayi, cerdas, tegas namun tidak dekat dengan rakyat.  Kendati terkadang banyak tokoh yang terlalu kebablasan dalam mencitrakan diri.

Sejatinya mencitrakan diri tidak perlu berlebihan. Masyarakat sudah tak bisa dibodohi. Hindari memberikan tontonan menjemukan dengan berbagai strategi pencitraan yang kebablasan

Sebaiknya nama-nama besar yang terjaring survei tidak perlu  menggunakan strategi usang. Seperti masuk gorong-gorong, makan di warung kaki lima. Sebab merakyat bukan berarti marah-marah di lampu merah. Atau drama memungut sampah di depan kamera televisi.

Perlu diperhatikan popularitas bukan segalanya. Seorang yang piawai dalam menyelesaikan berbagai polemik di masyarakat, jujur dan bekerja dengan hati. Tentu akan dicintai oleh rakyat ketimbang populer tapi tak punya prestasi.

Kapasitas dan integritas menjadi kata kunci pemimpin masa depan. Apa artinya populer dan merakyat, bila kerjanya menumpuk utang. Melemahkan perlawanan terhadap korupsi dan tidak memiliki kemampuan dalam manajemen solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pelik yang terjadi di negeri ini. Wallahu A'lam.[]

Erizky Bagus

https://akurat.co