News

Berawal dari Momen Buruk, Ini 5 Fakta Mengejutkan Black Friday

Black Friday diduga berwal dari krisis ekonomi yang dialami oleh penduduk AS pada tanggal 24 Desember 1869 silam.


Berawal dari Momen Buruk, Ini 5 Fakta Mengejutkan Black Friday

AKURAT.CO Setiap tahunnya, Black Friday selalu menjadi pembahasan ramai sejumlah warga dunia. Ajang yang selalu digelar pada bulan November tiap tahunnya ini selalu menyedot perhatian jutaan warga dunia terutama di Amerika Serikat. Salah satu topik pembicaraannya adalah terkait kebiasaan belanja ketika Black Friday ini. 

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik terkait Black Friday. 

1. Berawal dari krisis keuangan

Black Friday diduga berwal dari krisis ekonomi yang dialami oleh penduduk AS pada tanggal 24 Desember 1869 silam. Ketika itu, dua pemodal Wall Street, Jay Goul dan Jim Fisk memborong emas sebanyak mungkin hingga akhirnya menjual kembali ketika emas nilainya naik. Namun, konspirasi ini terbongkar hingga akhirnya harga emas benar-benar jatuh dan disusul harga saham. Alhasil, banyak investor yang menual sahamnya diharga terendah dan menyebabkan kekacauan ekonomi berkepanjangan. 

2. Momen setelah Thanksgiving

Versi lain Black Friday berasal dari tahun 1800an di mana para pemilik kebun di AS Selatan bisa membeli budak dengan harga diskon setelah Thanksgiving. Versi lainnya adalah adanya kekacauan karena banyaknya wisatawan yang pergi berbelanja di Kota Philadelphia setelah menyaksikan pertandingan Football America antara US Navy dan US Army. Wisatawan tersebut menyebabkan kekacauan di mana-mana. Sehingga Black Friday selalu identik dengan hal negatif. 

3. Diubah menjadi jadwalnya berbelanja

Namun, akhir 80an silam, para pedagang di AS memutuskan untuk mengubah konotasi Black Friday. Sejumlah pedagang sepakat untuk menggunakan Black Friday menjadi hari di mana sejumlah toko memberikan diskon besar-besaran. Hingga akhirnya, tradisi ini pun terus berlanjut dan menyebar tidak hanya di AS tetapi juga berbagai negara lainnya. Keberhasilan tersebut tak lepas dari banyaknya pedagang yang meraup untung begitu besar dari adanya Black Friday. 

4. Jadi hari libur tak resmi

Black Friday kini jatuh pada hari setelah liburan Thanksgiving di Amerika Serikat. Bahkan, banyak penduduk yang meyakini bahwa Black Friday menjadi hari libur ‘Tak Resmi’ dari banyak karyawan. Pasalnya, berbagai karyawan tersebut akan berburu dan berbelanja sebanyak mungkin karena banyaknya penawaran khusus dan diskon besar-besaran dari berbagai brand populer dunia. 

5. Jadi patokan ekonomi

Selalu jatuh pada hari Jumat di akhir bulan November, Black Friday juga kerap menadi patokan kondisi ekonomi suatu negara karena adanya puncak belanja. Dengan asumsi bahwa semakin rendah penjualan ketika Black Friday dari tahun-tahun sebelumnya, maka negara tersebut memiliki kondisi ekonomi yang melambat. 

Sedangkan bentuk diskon ketika Black Friday dari pedagang pun bermacam-macam, mulai dari buka toko lebih lama, menawarkan diskon tinggi di awal, hingga merencanakan Black Friday selama setahun penuh.[]