Rahmah

Benarkah Produk Hukum Demokrasi Disebut Hukum Kafir?

Benarkah Produk Hukum Demokrasi Disebut Hukum Kafir?
gapura replika berbentuk burung Garuda Pancasila raksasa di Tugu Api Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Pelaku teror bom bunuh diri di Kota Bandung mengklaim bahwa KUHP yang merupakan produk hukum demokrasi disebut sebagai sistem kafir dan syirik. Sehingga para penegak hukum demokrasi harus diperangi.

Klaim di atas merupakan klaim yang tidak mendasar. Sebab teks-teks suci agama justru mengkonfirmasj esensi sistem demokrasi sebagai sistem yang nilai-nilainya sejalan dengan pesan Al-Qur'an.

Dalam Islam banyak disebut ayat-ayat Al-Qur'an yang esensinya menjelaskan tentang demokrasi, di antaranya sebagai berikut:

baca juga:

1. QS Ali Imraan: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran : 159).

2. QS. Asy-Syuura: 38

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٨)

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; an mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Asy Syura : 38).

3. QS. An-Nahl: 125

اُدۡعُ اِلٰى سَبِيۡلِ رَبِّكَ بِالۡحِكۡمَةِ وَالۡمَوۡعِظَةِ الۡحَسَنَةِ‌ وَجَادِلۡهُمۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ‌ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِيۡلِهٖ‌ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ‏

Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125).

Dari keterangan di atas secara esensial sistem demokrasi bukanlah sistem kafir. Esensi sistem demokrasi bukan untuk menjadi sesembahan selain Allah, tetapi untuk mengatur masyarakat yang beragam, yang salah satu tujuannya, agar bisa beribadah dengan nyaman, menegakkan keadilan, musyawarah, dan membenarkan yang benar. Wallahu A'lam.[]