Rahmah

Benarkah Musik Haram?

Musik haram atau tidak di dalam Islam, begini maksudnya


Benarkah Musik Haram?
Ilustrasi penata musik (Dok. Kemenparekraf)

AKURAT.CO, Musik adalah salah satu budaya yang amat sangat lestari di bumi Indonesia. Musik menjadi salah satu icon bagi penduduk Indonesia dalam meningkatkan kemajuan di bidang kesenian.

Namun ada anggapan bahwa musik adalah haram sehingga harus dijauhi oleh umat Islam.  Ada beberapa hadis misalnya yang menyebutkan tentang diharamkannya musik, sebagaimana berikut;

Hadis pertama adalah hadus riwayat Bukhari. Rasulullah SAW bersabda:

لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ.

Artinya: “Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan perzinahan, sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari no. 5590)

Hadis yang lain ialah hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Laila dari Atha’ dari Jabir. Rasulullah bersabda:

إني لم أنه عن البكاء ولكني نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين : صوت عند نغمة لهو ولعب ومزامير الشيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب ورنة شيطان

Artinya: “Aku tidak melarang kalian menangis. Namun, yang aku larang adalah dua suara yang bodoh dan maksiat; suara di saat nyanyian hiburan/kesenangan, permainan dan lagu-lagu setan, serta suara ketika terjadi musibah, menampar wajah, merobek baju, dan jeritan setan.” (HR. Tirmidzi)

Quraish Shihab, dalam salah satu video Shihab dan Shihab mengatakan terkait hal ini, bahwa alat musik tidak terlarang, dan yang terlarang ialah kalau mengantar pada penyimpangan. Artinya, hadis nabi ini tidak berlaku secara mutlak. Jika musik itu tidak menghantarkan pada kemaksiatan, maka tidak mengapa.

Ulama kontemporer Tunisia juga berfatwa sama sebagaimana apa yang disanpaikan Prof. Quraish Shihab. Menurutnya, kompilasi fatwa ulama Tunisia abad ke-14 H, yang disusun oleh Dr. Muhammad ibn Yunus Attuzeri, menyebutkan bahwa dalil keharaman musik tidaklah bergantung pada alatnya, tetapi pada tujuan bermusiknya dan isi nyanyiannya. Bermain musik akan menjadi terlarang jika mengantarkan pada hal-hal yang dilarang agama.

Lebih lanjut, Quraish Shihab juga menyampaikan bahwa konteks ketika hadis (dan ayat) yang kerap dinukil untuk mengharamkan musik itu ialah bahwa, di masa Nabi, banyak orang terpesona dengan keindahan al-Quran. Maka untuk menandinginya, para rival Nabi menggunakan nyanyian.

Melalui penjelasan sederhana ink dapat dipahami musik dianggap haram manakala dapat mendatangkan kemaksiatan, untuk melawan bacaan ayat-ayat suci, dan sejenisnya. Jika musik digunakan untuk ketenangan dan tidak mengandung unsur bermaksiat, maka sangat boleh menggunakan musik dan alat-alatnya.[]