Tech

Benarkah Multiverse Ada? Ini Penjelasannya

Para ilmuwan sudah sejak lama membahas perihal Multiverse.


Benarkah Multiverse Ada? Ini Penjelasannya
Ilustrasi Multiverse. (Freepik)

AKURAT.CO  Multiverse atau multisemesta kini kembali menjadi perbincangan. Salah satunya karena film Dr. Strange in the Multiverse of Madness (2022) yang mengangkat latar belakang dunia pararel.

Selain film Dr. Strange, film lain juga diketahui mengusung konsep multiverse sebagai bagian dari jalinan ceritanya, seperti film Everything Everywhere All at Once (2022), hingga film serial Loki (2021). 

Di samping itu, para ilmuwan sebenarnya sudah sejak lama membahas mengenai kemungkinan adanya multiverse ini. Lalu, apa sih sebenarnya multiverse ini dan apakah multiverse ini ada?

baca juga:

Melansir dari laman Live Science, Rabu (11/5) teori mengenai multiverse sendiri menyebutkan bahwa alam semesta kita dengan ratusan miliar galaksi dan bintang yang hampir tak terhitung jumlahnya, mungkin bukan satu-satunya alam semesta.

Sebaliknya, mungkin ada alam semesta yang sama sekali berbeda, terpisah jauh dari kita, yang jumlahnya lebih banyak dari yang kita perkirakan sebelumnya.

Hal ini berarti mungkin adanya alam semesta yang tidak terhingga, dengan hukum fisikanya sendiri, kumpulan bintang dan galaksinya sendiri, dan bahkan mungkin memiliki peradaban cerdasnya sendiri. 

Bahkan, bisa jadi alam semesta tempat kita tinggal saat ini hanyalah salah satu bagian dari alam semesta lain yang jauh lebih besar dan lebih banyak lagi jumlahnya.

Konsep multiverse sendiri di beberapa bidang fisika. Salah satu contohnya pada teori inflasi. Teori inflasi menggambarkan peristiwa hipotetis yang terjadi ketika alam semesta masih sangat muda.

Alam semesta mengalami periode ekspansi yang cepat, 'mengembang' menjadi banyak dan lebih besar dari ukuran sebelumnya.

Inflasi alam semesta diperkirakan telah berakhir sekitar 14 miliar tahun yang lalu. Namun menurut Heling Deng, ahli kosmologi di Arizona State Univerity dan ahli dalam teori multiverse, inflasi tak berakhir pada waktu yang sama.

"Ada kemungkinan bahwa ketika inflasi berakhir di beberapa wilayah, inflasi berlanjut di wilayah lain," kata Deng.

Sementara inflasi berakhir di alam semesta kita, mungkin ada daerah lain yang jauh lebih jauh di mana inflasi terus berlanjut hingga saat ini. Alam semesta sendiri dapat 'menjepit' alam semesta yang mengembang dan meluas, menciptakan lautan inflasi abadi yang tak terbatas, diisi dengan banyak alam semesta tersendiri lainnya.

Dalam skenario inflasi abadi ini, setiap alam semesta akan muncul dengan hukum fisikanya sendiri, kumpulan partikelnya sendiri, pengaturan gayanya sendiri, dan nilai konstanta fundamentalnya sendiri. 

Menurut Deng, hal ini mungkin menjelaskan mengapa alam semesta memiliki sifat-sifat itu dan sifat-sifat yang sulit dijelaskan dengan fisika dasar, seperti materi gelap atau konstanta kosmologis.

"Jika ada multiverse, maka kita akan memiliki konstanta kosmologis acak di alam semesta yang berbeda," katanya.

Bukti fisik multiverse

Tidak sedikit ilmuwan telah mencoba menemukan lebih banyak bukti fisik yang kuat untuk membuktikan keberadaan multiverse. 

Misalnya, apabila memiliki tetangga alam semesta terdekat sejak lama, maka mungkin alam semesta itu akan bertabrakan dengan alam semesta kita. Hal ini dinilai dapat menciptakakan jejak yang bisa dideteksi.

Di mana jejak tersebut bisa dalam bentuk distorsi pada latar belakang gelombang mikro kosmik. Akan tetapi, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil, sehingga multiverse tetap menjadi hipotesis.

Deng sendiri tengah mencari bukti multiverse dengan mencari jenis lubang hitam khusus yang bisa menjadi artefak potongan alam semesta kita dengan alam semesta lain, melalui proses yang disebut dengan terowongan kuantum.

Menurutnya, jika beberapa wilayah alam semesta kita berpisah, maka akan meninggalkan 'gelembung' di alam semesta kita, yang akan berubah menjadi lubang hitam dan mungkin masih ada sampai sekarang.

"Pendeteksian potensial lubang hitam ini kemudian dapat menunjukkan keberadaan multiverse," kata Deng.

Lebih lanjut, ia mengatakan, implikasi yang paling membingungkan dari multisemesta adalah keberadaan doppelgängers alias keberadaan kembaran kita.

Jika memang alam semesta tak terhingga, tetapi sejumlah cara terbatas untuk mengatur partikel di alam semesta tersendiri, maka pada akhirnya pola yang sama pasti akan berulang.

Hal ini berarti akan ada salinan persis. Dan menurut Institute of Physics karena akan ada jumlah alam semesta yang tak terbatas, maka akan ada jumlah tak terbatas pula secara bersamaan.

Tapi tenang saja, kebingungan perihal ini untuk sementara masih sebatas teori karena multiverse belum terbukti ada. Setidaknya untuk saat ini.