Lifestyle

Benarkah Aborsi Bisa Sebabkan Kemandulan?

Aborsi terbukti memiliki segudang dampak negatif untuk kesehatan reproduksi wanita. Salah satunya adalah kemandulan. Benarkah aborsi bisa sebabkan mandul


Benarkah Aborsi Bisa Sebabkan Kemandulan?
Ilustrasi ibu hamil yang menantikan kelahiran (PIXABAY.COM)

AKURAT.CO Aborsi adalah ketika kehamilan diakhiri sehingga tidak terjadi kelahiran anak. Aborsi sendiri terbukti memiliki segudang dampak negatif untuk kesehatan reproduksi wanita. Salah satu dampak negatif yang sering dibicarakan adalah kemandulan. Ya, terkadang aborsi yang kamu lakukan dapat memengaruhi kesuburan di masa depan, terutama bila dilakukan dengan prosedur yang tidak tepat. Namun, risiko kemandulan sangat kecil alias jarang terjadi. Aborsi pun tidak meningkatkan risiko komplikasi kehamilan jika kamu memilih untuk hamil lagi, melansir Healthline. 

Hal itu didukung oleh sebuah artikel yang diterbitkan di European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology pada 2018, yang menyebutkan bahwa dalam skala populasi, aborsi tidak terkait dengan meningkatnya risiko kemandulan di masa depan.

Hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh Carol Scurfield, direktur medis Women’s Health Clinic. Scurfield mengonfirmasi bahwa komplikasi serius dari prosedur aborsi sangat jarang terjadi, terutama hingga memengaruhi kesuburan. 

Ada dua jenis perawatan aborsi, aborsi medis dan bedah. Aborsi medis adalah prosedur aborsi lewat obat-obatan. Lewat prosedur ini, kamu akan diminta meminum obat yang menghentikan pertumbuhan embrio serta merangsangnya untuk keluar dari rahim. 

Selain itu, aborsi juga bisa dilakukan lewat prosedur bedah di mana dokter akan memasukkan alat ke serviks dan mengeluarkan janin dan plasenta dari rahim. Prosedur ini tidak akan memengaruhi sel telur maupun organ reproduksi.  Jika prosedur ini dilakukan untuk kedua kalinya, memang akan ada risiko komplikasi.

"Prosedur kedua terdapat risiko timbulnya jaringan parut pada serviks atau rahim, tapi risiko tersebut sangat kecil," kata Kimberley A. Thornton, M.D., spesialis endokrinologi reproduksi dan infertilitas di RMA New York, dikutip AKURAT.CO pada Rabu (20/10/2021).

Lebih lanjut, Thornton menjelaskan, risiko timbulnya jaringan parut  ini bukan hanya muncul dari prosedur pengguguran kandungan tapi juga operasi lain, seperti caesar.

Tak jauh berbeda dengan penuturan Thornton, Randy Morris, MD,  juga menyebutkan bahwa aborsi akan memengaruhi kesuburan jika mengalami komplikasi selama atau setelah prosedur dilakukan. Misalnya, terjadi perforasi (rahim bolong) atau infeksi sehingga rahim terluka dan mengganggu penanaman telur. 

Jadi, perlu ditegaskan bahwa dampak aborsi yang sesuai prosedur medis tidak berkaitan secara langsung dengan peluang seseorang untuk hamil lagi. Faktor penentu wanita kesulitan untuk hamil adalah usia dan gaya hidup. 

Adapun pemerintah telah menetapkan peraturan terkait aborsi dalam Undang-undang tentang Kesehatan Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Aborsi tidak diizinkan, kecuali dengan alasan kedaruratan medis ibu dan bayi serta bagi korban pemerkosaan.[]