News

BEM UI Kritik Keras Jokowi, Fahri Hamzah Sampai Pengamat Beri Dukungan

BEM UI memberi gelar Jokowi 'The King of Lip Service'.


BEM UI Kritik Keras Jokowi, Fahri Hamzah Sampai Pengamat Beri Dukungan
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meninjau langsung pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro di RW 01, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (25/6/2021). (BPMI Setpres)

AKURAT.CO, Kemarin, Sabtu (26/6/2021) pemberitaan media arus utama tertuju pada kritik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

BEM UI memberi gelar Jokowi 'The King of Lip Service'. Hal ini disampaikan lewat akun Instagram mereka, @bemui_official.

Ketua BEM UI Leon Alvinta menuturkan, gelar tersebut dinilai sepadan dengan sikap Jokowi. Di mana kerap mengobral janji dan akhirnya tidak dipenuhi.

"Jokowi kerap kali mengobral janji manisnya, tetapi realitanya sering kali juga tidak selaras. Katanya begini, faktanya begitu," begitu bunyi postingan BEM UI.

Janji yang diungkit BEM UI adalah ucapan rindu didemo. Kemudian berkaitan dengan revisi UU ITE dan penguatan KPK.

 "Semua mengindikasikan bahwa perkataan yang dilontarkan tidak lebih dari sekadar bentuk lip service semata," beber BEM UI.

Atas dasar itu, BEM UI meminta Jokowi berhenti melontarkan janji-janji kepada rakyatnya. "Berhenti membual, rakyat sudah mual," tutur BEM UI.

Namun, alih-alih mendapat dukungan, BEM UI malah dipanggil pihak rektorat.

Kritik BEM UI didukung

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah membela BEM UI. Sebagai mantan aktivis BEM UI, dia mengkritik langkan rektorat.

Fahri mengatakan, sikap rektorat mengingatkan pada oktarianisme yang dulu dihadapinya semasa mahasiswa.

"Tahun 1994 aku dan teman2 mahasiswa wartawan koran kampus #WartaUI menulis headline “Kritik Pembangunan Rektorat UI yg Megah,” cuit Fahri.

Akibat tulisan itu, Fahri dipanggil rektorat dan koran yang menjadi wadah aspirasi mahasiswa kala itu dibredel. Dia bilang mentalitas Orde Baru masih tertanam di UI sampai sekarang.

”Kami dipanggil dan Koran kami dibredel di era Orba. Tahun 1998 Orba tumbang. Rupanya mental orba pindah ke Rektorat UI mengancam mahasiswa. Malu ah!” kicau Fahri.

Sementara itu, pengamat politik Hendri Satrio (Hensat) menilai gerakan BEM UI patut dihargai dan diapresiasi.

"Saya dukung mahasiswa UI bukan cuma karena saya pernah jadi mahasiswa UI tapi gerakan mahasiswa harus dihargai dan diapresiasi," cuit Hensat.

Istana merespons kritik BEM UI

Tenaga Ahli Utama Kedeputian Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian menilai, kritikan yang disampaikan BEM UI merupakan bentuk ekspresi. Namun, dia mempertanyakan apakah kritik yang disampaikan disertai data dan fakta atau tidak.

"Itu ekspresi adik-adik mahasiswa dan tentu ekspresi harus mengandung data dan fakta yang harus direspons dengan data dan fakta juga," tutur Donny sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari Kompas.com.

Donny memastikan bahwa pemerintah tidak antikritik.[]