News

Belum Puas Gelar Referendum, Putin Teken Dekrit 'Kemerdekaan' untuk Zaporizhia dan Kherson

Belum Puas Gelar Referendum, Putin Teken Dekrit 'Kemerdekaan' untuk Zaporizhia dan Kherson
Menurut para analis, langkah untuk secara resmi mencaplok wilayah Ukraina adalah eskalasi berbahaya dari Vladimir Putin (Sputnik/Gavriil Grigorov/Kremlin via Reuters)

AKURAT.CO  Tak puas hanya menggelar referendum di wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki, Rusia juga telah meneken dua dekrit kemerdekaan untuk Zaporizhia dan Kherson.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, penguasa Kremlin Vladimir Putin kini resmi mendeklarasikan kemerdekaan untuk kedua wilayah itu. Langkah ini terjadi saat Moskow yang sedang bersiap-siap untuk merayakan hasil referendumnya. Mereka akan 'secara resmi' memproklamirkan pencaplokan wilayah Ukraina di tengah eskalasi besar selama invasi yang telah berlangsung tujuh bulan. 

 "Saya memerintahkan pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan negara Zaporizhia dan Kherson di Ukraina selatan," kata Putin dalam dekrit presiden yang dikeluarkan pada Kamis (29/9) malam.

baca juga:

Dengan dekrit itu, maka Zaporizhia dan Kherson akan dimasukkan ke dalam wilayah Rusia bersama dengan republik yang memproklamirkan diri Donetsk dan Luhansk. Peresmian ini akan digelar selama upacara mewah di Kremlin pada Jumat (30/9), usai referendum yang diadakan dengan tergesa-gesa mengeklaim telah memilih Rusia dengan suara mayoritas hingga 99 persen. 

Pada bulan Februari, Putin lebih dulu mengakui 'kemerdekaan' untuk Donetsk dan Luhansk.

Upacara peresmian 'pencaplokan' itu terjadi hanya delapan tahun setelah Rusia merebut Krimea dari Ukraina. Krimea juga diambil melalui invasi dan pemungutan suara serupa.

Upacara renancanya akan berlangsung pada pukul 3 sore waktu setempat (12.00 GMT/19.00 WIB) di Georgievsky Hall di Istana Grand Kremlin, tempat di mana plakat marmer diukir dengan emas untuk memperingati Pahlawan militer Rusia.

Bagaimanapun, upaya pencaplokan Rusia telah ditentang luas. 

Dalam bahasa yang sangat kuat, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa pencaplokan Rusia akan melanggar Piagam PBB dan 'tidak memiliki nilai hukum'.

Guterres juga telah menggambarkan langkah Rusia sebagai 'eskalasi berbahaya' dalam konflik yang harusnya 'tidak memiliki tempat di dunia modern'.

"Ini tidak bisa diterima," kata Guterres berbicara kepada wartawan di New York City.

Sementara Kremlin berselebrasi, Dewan Keamanan PBB, di mana Rusia memiliki hak veto, direncanakan akan bertemu pada Jumat. Mereka bersama dengan Amerika Serikat (AS) dan Albania akan mengerjakan rancangan resolusi yang mengutuk pencaplokan oleh Rusia. 

Belum Puas Gelar Referendum, Putin Kini Teken Dekrit Kemerdekaan untuk Zaporizhia dan Kherson di Ukraina - Foto 1
 Red Square atau Lapangan Merah sedang dipersiapkan untuk acara yang menandai pencaplokan wilayah Ukraina, dengan papan bertuliskan 'Donetsk, Luhansk, Zaporizhia, Kherson: Russia!'-Alexander Zemlianichenko/AP Photo

Presiden Joe Biden pada Kamis telah menegaskan kembali bahwa AS tidak akan pernah mengakui klaim Rusia atas wilayah Ukraina.

"Hasilnya dibuat di Moskow," kata Biden tentang referendum tersebut.

Presiden Turki Tayyip Erdogan, yang biasanya netral, juga ikut mendesak Putin agar mengambil langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan di Ukraina.

Rusia hanya menguasai sekitar 60 persen Donetsk dan 70 persen Zaporizhia, tempat pertempuran berkecamuk di dekat pembangkit nuklir terbesar di Eropa.

Aneksasi yang tiba-tiba ini berarti bahwa sekarang garis depan akan melewati wilayah yang diklaim Rusia sebagai miliknya, yang menurut Putin siap dipertahankan dengan 'senjata nuklir' jika perlu.[]