Lifestyle

Belum Ada Bukti Varian Covid-19 BA.4.6 Timbulkan Penyakit Berat

BA.4. dapat 28% lebih mudah menular daripada BA.5 di Asia.

Belum Ada Bukti Varian Covid-19 BA.4.6 Timbulkan Penyakit Berat
Ilustrasi virus Covid-19 (Freepik/kjpargeter)

AKURAT.CO, Media dalam beberapa hari ini membicarakan tentang sub varian baru Covid-19, yaitu BA.4.6.

Mutasi varian Covid-19 masih terus terjadi. Selain Omicron BA.4 dan BA.5, kini muncul lagi subvarian Omicron BA.4.6 yang disebut lebih menular dibandingkan varian lainnya. 

Menurut laporan Centres for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat menyebutkan bahwa varian terbaru ini merupakan 4.1% kasus Covid-19 di negara itu, sampai data 30 Juli 2022.

baca juga:

Walaupun angka nasional mereka 4,1%, tetapi di 4 negara bagian Amerika yaitu Iowa, Kansas, Missouri, dan Nebraska angkanya mencapai 10,7%. 

Di daerah mid-Atlantic dan di Selatan juga angkanya lebih tinggi, dari rata-rata nasional.

Diketahui, BA.4.6 sudah dilaporkan ada di setidaknya 43 negara, dan diperkirakan sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu

Dilaporkan  sudah ada setidaknya 5.681 samples BA.4.6 dalam 3 bulan terakhir ini, dan juga sudah dimasukkan dalam database dari GISAID (Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data).

Bahkan informasi The Centre for Medical Genomics dari Rumah Sakit Ramathibodi Thailand a.l. menyebutkan bahwa BA.4.6 adalah 15% lebih mudah menular daripada BA.5 di dunia secara umum.

Lalu, BA.4. nampaknya dapat 28% lebih mudah menular daripada BA.5 di Asia.

A.4.6 juga 12% lebih mudah menular dibanding BA.2.75 di dunia secara umum, dan bahkan dapat sampai 53% lebih mudah menular dari BA.2.75 di Asia.

Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama sub varian BA.4.6 secara genomik agak mirip dengan  BA.4, perbedaannya adalah pada mutasi Spike/tonjolan R346T.

"Secara umum belum ada bukti bahwa BA.4.6 akan menimbulkan penyakit lebih berat, atau apakah dapat menghindar dari imunitas, atau apakah resisten terhadap vaksin," ujar Prof Tjandra melalui keterangn tertulis, pada Rabu (10/8/2022)

Menurut Prof Tjandra, masyarakat Indonesia tidak perlu kawatir berlebihan dengan kembali adanya sub varian baru ini, karena varian/sub varian baru memang mungkin akan ada dari waktu ke waktu.

"Tetapi, perkembangan ini juga tidak boleh dianggap remeh. Perlu di periksa dengan amat cermat tentang kemungkinan ada tidaknya BA.4.6 di negara kita, apalagi di tengah kenaikan kasus sekarang ini," jelas Prof Tjandra.